Lantaran, jika dirinya terpilih dimungkinkan adanya kolaborasi pengolahan sampah antara Kota Jogja dan Kulon Progo.
Kolaborasi ini menjadi perbincangan masyarakat Kalurahan Ngentakrejo.
"Maksut kolaborasi ini apa, nak sampah kota digowo rene yo menolak," ucap salah satu warga Kalurahan Ngentakrejo yang tak ingin disebutkan namanya, pada Radar Jogja, Minggu (6/10).
Dirinya menilai, kunjungan mantan Bupati Kulon Progo sarat dengan unsur politik. Pasalnya, Hasto membawa isu sampah dari Kota Jogja yang belum terpecahkan.
Dengan mengangkat isu tersebut, elektabilitas dimungkinkan mengalami kenaikan berkat program kolaborasi pengolahan sampah yang dibawanya.
Di sisi lain, justru isu ini menjadi bola panas bagi masyarakat Ngentakrejo, khususnya warga Nglatiyan 1.
Warga Nglatiyan 1 masih berkutat dengan masalah jalan rusak akibat tambang, dan jika program pengolahan sampah terjadi di daerahnya masyarakat justru semakin dirugikan.
"Memang masyarakat sempat melakukan studi banding, tapi untuk pengolahan sampah di wilayah kalurahan, bukan kota," tegasnya.
Dirinya menceritakan, masyarakat Padukuhan Nglatiyan 1 justru mengalami kebingungan saat kunjungan Hasto di daerahnya.
Lantaran, kunjungan mencoba mengangkat narasi pengolahan sampah kota yang dipusatkan di Nglatiyan 1. Kebingungan memuncak saat, adanya tambahan narasi mengenai masyarakat yang telah melakukan studi banding pengolahan sampah di Banyumas.
Padahal tujuan studi banding warga Nglatiyan 1, tak ada hubungannya dengan rencana kolaborasi pengolahan sampah, maupun proyek TPA di daerahnya.
Studi banding pengolahan sampah dilakukan untuk mengkaji rencana pembuatan TPST di kalurahan.
"TPST digunakan menampung sampah di area Kalurahan Ngentakrejo," ucapnya.
Mengonfirmasi pernyataan warga, Radar Jogja menghubungi Lurah Ngentakrejo Sumardi.
Sumardi menjelaskan, dirinya memang mengikuti kegiatan kunjungan yang dilakukan oleh Hasto Wardoyo pada, Rabu (2/10).
Kendati, mengikuti kunjungan dirinya sama sekali tak mengetahui tujuan dari kunjungan tersebut.
Apesnya, dirinya yang mendampingi Hasto justru diprotes warganya sendiri. Lantaran, warga mempertanyakan perihal program kolaborasi pengolahan sampah antara Kota Jogja dan Padukuhan Nglatiyan.
Warga memprotes kunjungan tersebut, karena berpotensi membawa sampah dari Kota Jogja menuju ke daerahnya.
Memang benar, warga sempat melakukan studi banding ke Banyumas. Namun, studi banding dilakukan tidak untuk mempersiapkan program kolaborasi pengolahan sampah.
Studi dilakukan untuk mengolah sampah domestik milik warga Kalurahan Ngentakrejo, bukan dari luar daerah.
"Sama sekali tidak tahu kalau beliau (Hasto) merupakan cawalkot, karena setahu saya mantan bupati, dan kepala BKKBN," ucapnya.
Sumardi menjelaskan, dirinya juga dihubungi Panwascam akibat keikutsertaannya dalam kunjungan cawalkot itu.
Padahal, kunjungan Hasto sama sekali tak berkonsultasi dengan kalurahan, dan terkesan mendadak. Sumardi memposisikan diri sebagai lurah yang menyambut mantan bupati Kulon Progo, sekaligus kepala BKKBN.
Editor : Bahana.