Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Awal Tahun Dinkes Catat 70 Kasus Demam Berdarah di Kulon Progo

Anom Bagaskoro • Jumat, 9 Februari 2024 | 03:05 WIB
Foto: Ilustrasi orang terkena DBD.
Foto: Ilustrasi orang terkena DBD.

KULON PROGO - Musim penghujan menjadi perhatian bersama, tak hanya berkaitan dengan bencana alam, namun ancaman penyakit juga perlu diperhatikan. Termasuk ancaman demam berdarah.


"Terdapat 70 kasus demam berdarah (DB), dan 17 diantaranya demam berdarah dengue (DBD)," sebut Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan, Arief Musthofa, saat dihubungi Radar Jogja, Kamis (8/2/2024).


Arief menjelaskan, terdapat perbedaan antara DB dengan DBD.

DB cenderung memiliki gejala lebih ringan daripada DBD.

Sedangkan ciri khas DBD berupa penurunan jumlah trombosit, namun tidak dibarengi hematokrit.


Arief mengungkapkan, terdapat 2 kapanewon yang mengalami kenaikan angka demam berdarah. Yaitu, Kapanewon Lendah dan Galur.

Di Kapanewon Lendah terdapat 21 kasus, 5 orang terkena DBD, dan 16 terkena DB.

Menurutnya kejadian tersebut sudah ditangani dengan baik.


"Tanggal 19-25 Januari lalu, kami melakukan penindakan fogging untuk mengendalikan penyebaran demam berdarah di Kapanewon Lendah," ucap Arief.


Arief juga mengungkapkan bahwa temuan juga terjadi di Kapanewon Temon. Namun temuan kasus tersebut tidak sebanyak di Kapanewon Lendah dan Galur.


Lebih lanjut, Arief mengungkapkan bahwa demam berdarah memiliki gejala seperti pelana kuda.

Dimana suhu tubuh mengalami kenaikan pada hari ke-1 hingga 3 sejak terjangkit.

Ketika hari ke-4 dan 5 suhu tubuh mengalami penurunan drastis. Kemudian pada hari ke-6 suhu tubuh kembali naik.


"Bila digambarkan grafik suhu badan mirip seperti pelana kuda," ucap Arief.


Selain itu, gejala awal ditandai dengan demam tinggi dan nyeri di ulu hati. Lebih parah, nantinya penderita akan mengalami ruam merah di kulit.


Arief mengungkapkan, apabila masyarakat menemui gejala itu diharapkan untuk segera melakukan pemerikasaan di fasilita puskesmas.

Nantinya masyarakat akan dilakukan pengecekan.

Namun, Arief juga menyarankan apabila melakukan pengecekan, masyarakat agar tidak berpindah ke fasilitas umum lain.


"Terkadang masyarakat karena ingin cepat sembuh, akhirnya mereka berpindah ke fasilitas kesehatan lain," ucap Arief.


Hal ini akan mempengaruhi tracking diagnosis dokter.

Karena jika masyarakat pindah tempat fasilitas lain, dokter atau tenaga kesehatan tidak memiliki riwayat pengecekan demam berdarah sebelumnya.

Ada beberapa pengecekan yang perlu dilihat setiap riwayatnya.


Arief menambahkan, dalam pencegahan demam berdarah dibutuhkan kesadaran masyarakat pada lingkungan.

Menurutnya, fogging hanya merupakan tindakan sementara agar perluasan penyakit demam berdarah tidak meluas.


"Fogging hanya mematikan nyamuk dewasa, sedangkan jentik-jentik nyamuk tidak ikut mati," ucap Arief.


Hal itulah yang menyebabkan siklus demam berdarah terkadang tak kunjung selesai.

Arief berharap masyarakat berperan aktif dalam menjaga lingkungannya dengan cara menghilangkan tempat bertelurnya nyamuk, seperti wadah yang terisi air hujan.


Hal ini perlu diperhatikan, kendati pihak Dinas Kesehatan Kulon Progo akan tetap melakukan perawatan bagi para pasien demam berdarah.


Membenarkan pernyataan Arief, Dukuh Lendah, Kalurahan Jatirejo, Kapanewon Lendah, Akhir Panawa membenarkan kejadian penyebaran demam berdarah sempat terjadi di padukuhannya.

Ia mengungkapkan bahwa terdapat 6 RT yang mengalami kejadian tersebut.


"Sekarang sudah kondusif karena kemarin sempat di fogging dan melakukan pengecekan jentik-jentik nyamuk," ucap Panawa, saat dihubungi, Rabu (7/2/2024). 

 

Editor : Meitika Candra Lantiva
#fogging #perbedaan #demam berdarah #antisipasi #DB #Kulon Progo #tracking #musim hujan #penanganan #DBD #kasus