Menurutnya, terobosan ini masuk bagian konsep pariwisata kolaboratif bekerjasama dengan Balai Pendidikan Menengah (Dikmen) dan Dinas Pendidikan Pemuda dan Pariwisata (Disdikpora) Kulonprogo. Untuk lomba fotografi astronomi diikuti siswa SMA sek-Kulonprogo. "Gelaran ini merupakan gelaran kali pertama. Diharapkan kompetisi ini dapat membangkitkan aktivitas anak-anak sesuai kreasi dan inovasi yang dimiliki di tengah kelonggaran pandemi, kedepan tentu masih ada evaluasi untuk pembenahan," ujarnya.
Founder Jogja Astro Club Muthoha Arkanuddin menambahkan, para siswa memang dilatih untuk membuat roket air dengan memanfaatkan barang bekas (botol minuman bekas,Red). Proses pembuatan cukup mudah. Roket dibentuk menggunakan dua botol. Bagian luar botol dilapisi kertas dan dirapatkan dengan menggunakan selotip. Kemudian bagian atas botol diberi tutup berbentuk kerucut dan di bawahnya dipasang semacam sayap.
Roket yang sudah jadi diisi air teknis menerbangkannya cukup dengan dipompa. Pemenang kompetisi akan mendapatkan hadiah. Kriteria utama penilaian dilihat dari segi estetika, tekanan, ketinggian, jarak luncur dan ketepatan sasaran sejauh 50 meter juga menjadi item penilaian. "Harapannya, melalui kompetisi ini bisa mengenalkan teknologi luar angkasa kepada generasi muda. Tidak menutup kemungkinan kedepan akan muncul bibit-bibit astronot dari Indonesia," ujarnya.
Salah satu peserta Jenar Candraningtyas, siswi di MTs Negeri 1 Wates mengungkapkan, ia tertarik membuat roket air dan itu belum pernah ia buat sebelumnya. "Yang bikin menarik cara membuatnya dan memainkannya," ucapnya. (tom/din) Editor : Editor Content