Project Manager Kantor Proyek Pembangunan Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) PT Angkasa Pura I, Sujiastono, mengungkapkan, kereta api sebagai transportasi pendukung bandara memang harus terintegrasi.
"Terkait percepatan pembangunan bandara, IPL jalur kereta api juga harus segera diterbitkan. Kabar terakhir masih menunggu persetujuan Dirjen Perkeretaapian," ungkap Sujiastono.
Sembari menunggu IPL, saat ini terus dilakukan penyusunan trase jalan dan gambar rencana pembangunan. Diperkirakan, sejumlah area di Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) nantinya akan masuk dalam IPL tersebut.
"Kalau masterplan bandara NYIA sudah diserahkan ke pihak-pihak terkait. Namun sebatas tata ruang di luar bandara," katanya.
Sujiastono mengatakan stasiun Kedundang menjadi satu-satunya pilihan stasiun penghubung. Stasiun ini dipilih karena titiknya paling dekat dengan NYIA.
"Namun itu tadi, kami masih menjalin komunikasi lebih lanjut antara PT Angkasa Pura I dan PT KAI," tegasnya.
Sebelumnya, Executif Vice President (EVP) Daerah Operasional (DAOP) VI Hendy Helmy menyebutkan, nantinya dari stasiun Kedundang akan dibuatkan trek menuju bandara sebagai alternatif transportasi yang terintegrasi.
"Stasiun Kedundang merupakan stasiun non-aktif, mudah untuk dihidupkan kembali selama pemetaan jalurnya jelas. Tinggal kami pasang wesel dan berbagai perlengkapan lain, beres," kata Hendy.
Pemasangan rel hanya membutuhkan sekitar enam bulan. Sebab jaraknya tidak terlalu jauh, hanya berkisar 4 kilometer.
"Pemasangan rel pasti lebih cepat selesai daripada pembangunan bandara. Kereta yang akan digunakan yakni kereta api listrik (KRL), untuk mengantisipasi frekuensi penumpang yang tinggi baik menuju dan dari bandara," ujarnya. (tom/iwa/ong) Editor : Administrator