Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengenal Ungkrung, Warisan Kuliner Masa Lampau yang Mengingatkan Datangnya Musim Paceklik

Magang Radar Jogja • Kamis, 22 Januari 2026 | 06:15 WIB

 

Kuliner Ungkrung dari Gunungkidul.
Kuliner Ungkrung dari Gunungkidul.

RADAR JOGJA - Ungkrung merupakan ulat jati, menjadikannya simbol kearifan lokal masyarakat Gunungkidul dalam memanfaatkan alam sekitarnya.

Kuliner yang unik ini mulai dicari oleh wisatawan karena memiliki cita rasa lezat dan jarang ditemui di tempat lain.

Sedari lama, masyarakat Gunungkidul memang terkenal dengan pola kulinernya yang unik, berbeda dengan masyarakat pada umumnya.

Kondisi ini dilatarbelakangi oleh bentang alam yang berada di wilayah karst, sehingga mereka harus pintar-pintar memanfaatkan sumber daya alam yang ada di sekitarnya.

Mulai dari walang, gatot, dan ulat dikonsumsi masyarakat Gunungkidul sebagai pengganti makanan pokok dan protein ketika musim paceklik tiba.

Kuliner ulat jati memang tidak sepopuler belalang goreng.

Tidak dijual dijalanan, ulat jati hanya dapat ditemui di warung tertentu, misalnya di Lesehan Pari Gogo, Wonosari.

Kuliner ini berbahan dari ulat jati atau kepompong yang dibersihkan bulunya, lalu dikukus untuk menghilangkan racunnya.

Setelah matang, kepompong ulat jati pun siap untuk dimasak dengan macam-macam bumbu, mulai dari bumbu bacem hingga bumbu balado.

Ketika pertama kali melihat makanan ini, tentu tidaklah se-ekstrim belalang.

Tetapi memang tetap terasa menjijikkan bagi mereka yang belum terbiasa.

Baca Juga: Pemkab Gunungkidul Siapkan Relokasi PKL Alun-Alun Wonosari ke Besole dan Taman Kuliner

Namun, begitu memasuki mulut, rasa renyah dan gurih mendominasi.

Rasa ini mirip seperti ketika makan udang goreng. Ketakutan yang awalnya terjadi, setelah makan pun menghilang, berbalik menjadi rasa ketagihan.

Menurut cerita penduduk lokal, kebiasaan makan ulat jati berawal dari musim paceklik pada tahun 1960-an.

Bahan pangan kala itu susah didapat, sehingga masyarakat Gunungkidul mau tidak mau harus mulai beradaptasi dengan alternatif makanan lain yang bisa ditemukan, salah satunya yaitu ulat jati.

Oleh karena rasanya yang lezat, kebiasaan memakan serangga ini kemudian diwariskan secara turun-temurun sebagai sebuah kearifan lokal yang sangat berharga.

Selain itu, ulat jati ternyata memiliki nilai gizi cukup tinggi.

Berdasarkan penelitian FAO di Lowa State University, setiap 100 gram ulat kering mengandung protein hingga 68 gram.

Kandungan ini melebihi protein daging sapi yang hanya berjumlah 26 gram.

Kemudian, kandungan lemak pada serangga juga kecil, berbeda dengan daging sapi yang mencapai 15 gram setiap 100 gram daging.

Di sisi lain, ulat jati juga memiliki angka produktivitas tinggi dan ramah lingkungan.

Maka tidak salah, apabila FAO menyebut serangga akan menggantikan protein hewan di masa yang akan datang. (Ahmad Yinfa Cendikia)

 

Editor : Meitika Candra Lantiva
#Warisan Kuliner #Simbol Kearifan Lokal #Ungkrung #Gunung Kidul #masa lampau #musim paceklik #Mengenal #Ulat Jati