RADAR JOGJA - Jogja tidak hanya menawarkan keindahan alam dan budaya, di dalamnya terdapat sanubari rasa yang layak untuk dinikmati dan diresapi khasannya.
Apabila ditanya kuliner Jogja, maka kita tidak asing lagi dengan Gudeg. Jogja berhasil membawa Gudeg sebagai makanan khas wilayahnya, dengan cita rasa manis dan warnanya yang coklat dan kemerahan, karena pemanfaatan santan atau gula aren selama pembuatannya menjadi ciri khas Gudeg dari Jogja. Tidak afdol rasanya ke Jogja, tapi makan Gudeg belum pernah.
Sebelum membahas Gudeg lebih jauh, makanan khas yang mencerminkan Jogja yang dapat bersanding dengan kepopuleran Gudeg adalah Bakpia.
Sedikit mirip dengan Gudeg yang manis, Bakpia juga merupakan makanan khas Jogja dengan cita rasa manis. Bakpia adalah kue kering dengan isi yang bervariasi dapat dipilih sesuai selera, tapi biasanya Bakpia diisi dengan kacang hijau atau cokelat. Tidak hanya menjadi perwakilan karakteristik kuliner di Jogja, Bakpia mendapatkan tempat sebagai hasil toleransi antar budaya di Yogyakarta.
Kedua makanan ini dapat mudah ditemukan dengan menyusuri jalan-jalan di Yogyakarta, misalnya Malioboro. Sebagai tempat yang ramai di kota Yogyakarta, mengunjungi Malioboro adalah alternatif untuk menemukan penjual Gudeg dan Bakpia, yang menyajikan makanan mereka dalam etalase di sebuah toko atau menjadi pedagang kaki lima.
Mari kita mengenal Gudeg dan Bakpia melalui perjalanannya sejarahnya
Gudeg
Gudeg terbuat dari bahan dasar nangka yang dalam penyajiannya terdiri dari ayam, telur, tempe atau tahu, dilengkapi sambal krecek dan areh. Dalam pembuatannya Gudeg membutuhkan waktu yang sangat lama karena proses merebusnya bisa memakan waktu hingga berjam-jam sampai mendapatkan tekstur khas Gudeg yang kental.
Diperkirakan Gudeg sudah dikenal jauh sebelum berdirinya kesultanan Yogyakarta, yaitu sekitar abad ke-16 atau 17. Sejak dulu Gudeg menjadi jajanan yang dijual di keramaian, seperti pertunjukan wayang. Mulanya hal ini dilakukan oleh para penjajah, serta mereka menghidangkan Gudeg untuk menjamu tamu. Kebiasaan ini marak terjadi di daerah Jawa.
Bakpia
Bakpia mendapatkan tempat sebagai hasil toleransi antar budaya di Yogyakarta. Perjalanan sejarah memaparkan bahwa Bakpia merupakan perpaduan cita rasa Tiongkok dan lokal.
Resep Bakpia dibawa oleh orang Tionghoa dari Wonogiri bernama Kwik Sun Kwok pada tahun 1940-an. Produksi Bakpia berawal dari Kwik Sun Kwok yang menyewa tempat usaha milik Niti Gurnito di Kampung Suryowijayan, Mantrijeron, Yogyakarta. Namun perjalanan usahanya Kwik Sun Kwok pindah dan usahanya dilanjutkan oleh Niti Gurnito. Di sinilah perjalanan Bakpia berawal dan merajalela ke berbagai penjuru Yogyakarta.
(Marina Juliana)
Sumber: Dinas Kebudayaan