RADAR JOGJA - Tidur delapan jam ternyata tidak otomatis menjamin tubuh beristirahat secara optimal.
Jika kamu sering terbangun dalam kondisi lemas dan tidak bertenaga meski sudah tidur dengan cukup, kamu tidak sendirian.
Data dari Sleep Foundacion menunjukkan bahwa seperempat populasi dunia mengalami kantuk berlebihan berlebihan di siang hari walau durasi tidurnya sudah cukup.
Lama waktu tidur hanyalah salah satu faktor. Ada beragam mekanisme biologis lain yang membuat tubuh tetap terasa lelah.
Baca Juga: Mancini 2.0 Resmi Bergulir: Reorganisasi Skuad, Fleksibilitas Taktis, dan Ambisi Dominasi Italia
1. Sleep Inertia: Saat Otak Belum Siap Bangun
Kondisi lingering pusing, bingung, dan sulit fokus sesaat setelah bangun dikenal sebagai sleep inertia.
Fenomena ini umumnya terjadi ketika kamu terbangun secara mendadak dari fase tidur nyenyak, memiliki utang tidur, atau kualitas istirahatmu memang buruk.
Menariknya, tidur terlalu lama juga bisa memicu masalah yang sama.
Jika kamu menambah jam tidur secara drastis, alarm berisiko membangungakanmu di tengah-tengah fase tidur dalam (deep sleep) bukan di fase tidur ringan sehingga efek linglung saat bangun justru makin berat.
Baca Juga: Akses Ditutup Proyek, Warga dan Pedagang Pantai Watubolong Geruduk DPRD Gunungkidul
2. Kualitas Tidur yang Buruk
Pentingnya tidur tidak hanya diukur dari kuantitas, tetapi juga dari kelancaran tubuh melewati tiap siklusnya (tidur ringan, tidur dalam, dan fase REM).
Tidur yang terus-menerus terinterupsi akan membuat tubuh gagal mencapai fase pemulihan maksimal, sehingga kamu tetap bangun dalam keadaan lelah.
• Ancaman Sleep Apnea: Salah satu pemicu utama buruknya kualitas tidur adalah obstructive sleep apnea (henti napas sejenak saat tidur).
Kondisi ini bisa terjadi hingga ratusan kali dalam semalam tanpa disadari.
Gejalanya meliputi ngorok yang keras, sering terbangun untuk buang air kecil, dan sakit kepala di pagi hari.
Baca Juga: Liverpool Pantau Bek Muda Feyenoord, Jadi Alternatif Jika Frimpong Belum Bangkit
3. Jam Biologis (Ritme Sirkadian) yang Terganggu
Tubuh manusia memiliki jam internal yang mengatur siklus tidur dan bangun.
Jadwal tidur yang berubah-ubah seperti begadang di hari kerja lalu tidur seharian di akhir pekan akan mengacaukan ritem ini.
Konsistensi jam bangun membantu otak memprediksi kapan tubuh harus siap beraktivitas.
Selain itu, kurangnya paparan sinar matahari di pagi hari membuat hormon melatonin (pemicu kantuk) lambat menurun, menyebabkan rasa lemas bertahan hingga siang.
4. Faktor Kondisi Kesehatan Mendasar
Jika rasa lelah yang ekstrem bertahan lebih dari dua minggu meskipun pola tidur sudah diperbaiki, masalahnya mungkin berkaitan dengan kondisi medis tertentu, seperti:
• Anemia (Kekurangan Zat Besi): Pasokan oksigen dalam darah berkurang, memicu rasa lelah dan sesak.
• Hipotiroidisme: Metabolisme tubuh melambat akibat kelenjar tiroid kurang aktif.
• Defisiensi Vitamin B12 atau D: Mengganggu fungsi saraf dan pembentukan sel darah merah.
• Gangguan Kesehatan Mental: Depresi atau kecemasan dapat merusak struktur tidur alami.
• Ketidakseimbangan Gula Darah: Sel tubuh kesulitan mengolah energi secara optimal.
Baca Juga: Jawa Pos Radar Jogja, edisi Salasa, 22 September 2026
Jika rasa kantuk sudah mulai mengganggu konsentrasi saat bekerja, belajar, atau mengemudi, segeralah berkonsultasi dengan dokter.
Pemeriksaan medis atau tes darah sederhana dapat membantu mendeteksi potensi sleep apnea, kelainan tiroid, hingga kekurangan nutrisi.
Langkah Sederhana yang Bisa Dicoba:
• Menjaga jam tidur dan jam bangun tetap konsisten setiap hari.
• Cari paparan sinar matahari pagi sesaat setelah bangun.
• Pastikan suasana kamar tidur gelap, tenang, dan sejuk.
• Waspadai gejala mendengkur keras sebagai sinyal masalah pernapasan.
Editor : Meitika Candra Lantiva