JOGJA - Kasus Tuberkulosis (TB) di Indonesia berada di peringkat dua dunia setelah negara India. DIJ menjadi salah satu provinsi dengan angka skrining yang masih rendah. Di bawah rerata nasional.
Pemerintah kemudian menggalakkan Active Case Finding (ACF) di setiap daerah, salah satunya di DIJ, Sabtu (29/11). Skrining TB dilakukan di depan Gedung DPRD DIJ dengan melibatkan Dinas Kesehatan (Dinkes), Dinas Pariwisata (Dinpar), jajaran TNI dan segenap stakeholder terkait di DIJ. Agenda tersebut merupakan upaya untuk mendeteksi secara menyeluruh penyakit TB di Kota Jogja.
Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus mengatakan agenda tersebut meruoakan salah satu program pemerintah pusat dalam memberantas TB secara nasional. Termasuk dalam delapan program prioritas Prabowo-Gibran.
"Ternyata di Jogja punya kelebihan karena ada kolaborasi lintas sektor dan peran serta masyarakat yang kuat," ujarnya saat ditemui di Kompleks Kepatihan Jogja, Sabtu (29/11).
Ia juga menilai ada keunikan di Jogja yang tidak ditemukan di daerah lain. Semangat gotong royong terlihat erat selama proses penyelenggaraan skrining.
Terlebih ketika ia melihat dari Keraton Jogja juga membuka temmpat skrining untuk memereksi sekitar 500 orang abdi dalemnya. "Apa yang baik di Jogja bisa diimplementasikan di wilayah Indonesia lainnya," bebernya.
Sekretaris Provinsi (Sekprov) DIJ Ni Made Dwipanti Indrayanti menambahkan dukungan pemerintah pusat untuk memberantaas TB di DIJ disambut dengan sangat baik. Upaya pencegahan terhadap TB di setiap daerah menurutnya mempunyai beragam karakteristik.
"Kalau di sini (DIJ) kita kuatkan kolaboroasi. Penanganan TB tidak hanya tanggung jawab sektor kesehatan, tetapi masyarakat luas," ujarnya.
Secara data, lanjutnya, penemuan kasus TB di DIJ baru sebesar 63 persen. Padahal secara nasional targetnya bisa menyentuh 95 persen. Maka dari itu, ia berkomitmen untuk menggalakkan skrining TB.
"Komitmen itu bisa dikuatkan dengan implementatif, jadi tidak hanya selesai di ruang rapat atau di atas kertas saja," tandasnya. (oso/pra)
Editor : Heru Pratomo