JOGJA - Kasus Leptospirosis belakangan ini terjadi peningkatan di DIY khususnya Kota Jogja. Dinas Kesehatan (Dinkes) DIJ menyebut penyakit tersebut sangat berkaitan dengan faktor kebersihan lingkungan dan perilaku manusia.
"(Penyakit) itu karena ditularkan oleh tikus," ujar Kepala Dinkes DIJ Pembajun Setyaningastutie saat dikonfirmasi, Minggu (13/7).
Masalah tersebut timbul di wilayah perkotaan yakni Kota Jogja khsususnya berkaitan dengan kondisi persampahan dan kebersigan gorong-gorong. Lalu untuk wilayah pedesaan, menurutnya sangat berkaitan dengan sektor pertanian.
Baca Juga: Konser 20 Tahun Al Azhar Yogyakarta World Schools, Perayaan Penuh Cinta, Doa, dan Harmoni Musik
"Kolaborasi semua stakeholder sangat dibutuhkan untuk pencegahan maupun pengendalian kasus leptospirosis ini," tuturnya.
Karena tren kasus tersebut belakangan terdapat kenaikan, pihaknya menghimbau agar masyarakat lebih memperhatikan tanda dan gejala penyakit tersebut. Hal itu agar apabila dideteksi terjangkit dapat segera ditangani.
"Sehingga tidak terlambat mengakses pelayanan kesehatan," bebernya.
Apabila mengalami gelaja panas/demam, lanjutnya, hingga pusing dan mual untuk segera periksa. Terlebih pasca beraktivitas yang berkaitan dengan sampah, kotoran, got ataupun sawah.
Menurutnya 19 kasus tersebut tersebar di semua kemantren di Kota Jogja. Hanya ada tiga Kemantren yang terbebas dari penyakit tersebut.
"Kemantren Kraton, Gondomanan dan Danurejan," bebernya. (oso)
Editor : Heru Pratomo