RADAR JOGJA - Covid-19 di Singapura dan India kembali merebak. Bahkan Kementerian Kesehatan (kemenkes) memperingatkan masyarakat agar kembali menegakkan protokol kesehatan.
Di antaranya mengenakan masker ketika flu saat beraktivitas.
Gejala Covid-19 sendiri ditandai dengan rasa sakit sangat menyiksa, yang terkadang hanya dialami di satu sisi kepala seperti migrain.
Sakit kepala tidak melulu pertanda virus corona, terkadang gangguan tersebut berkaitan dengan strees, kurang tidur, pilek, sinusitis, dan alergi.
Akibat kemungkinan yang beragam, cenderung sulit untuk mengenali apakah sakit kepala disebabkan oleh infeksi virus corona, atau hanya sakit kepala biasa.
Dilansir dari halodoc.com, berikut beberapa cara membedakan sakit kepala biasa dan sakit kepala akibat Covid-19;
- Disertai dengan gejala lain
Perbedaan signifikan dari sakit kepala biasa dan gejala Covid-19 dapat dilihat dari perkembangan gejalanya.
Sakit kepala akibat virus corona akan ditandai dengan peradangan saraf yang memicu hilangnya indera perasa atau penciuman, dan masalah pada pencernaan, seperti kram perut, mual, serta menurunnya nafsu makan.
- Berlangsung lebih dari tiga hari
Sakit kepala yang berlangsung lebih dari tiga hari dikeluhkan pada lebih dari 10 persen pengidap virus corona.
Segera konsultasi dengan dokter jika kamu mengalami sakit kepala atau nyeri otot dengan durasi lebih dari dua hari.
Gejala tersebut biasanya disertai dengan demam, batuk, atau sangat menggigil.
- Sensasi rasa berdenyut
Selain sakit kepala parah, sakit kepala pada pengidap akan diikuti dengan sensasi berdenyut.
Akibatnya, pengidap sangat sulit berkonsentrasi pada pekerjaan atau hal-hal lain yang membutuhkan fokus.
Sakit kepala ini dinilai mirip dengan migrain, yang semakin memburuk ketika melakukan aktivitas membungkukkan badan.
- Tidak dapat disembuhkan dengan obat biasa
Jika sakit kepala biasa dapat langsung sembuh dengan mengonsumsi obat penghilang rasa sakit, tidak dengan sakit kepala akibat infeksi virus corona.
Untuk pengidap, sakit kepala dapat diringankan dengan mengonsumsi obat OTC dan obat analgesik.
Editor : Meitika Candra Lantiva