RADAR JOGJA – Kasus doping terhadap pemain sepak bola kembali mencuat usai Paul Pogba, gelandang Juventus berkebangsaan Prancis, dinyatakan positif mengandung testosterone.
Bintang timnas Perancis berusia 30 tahun itu dikabarkan menghadapi larangan bermain selama dua sampai empat tahun jika terbukti bersalah dalam kasus doping ini.
Menggunakan obat-obatan terlarang atau dopingan sebelum pertandingan dalam aturan sepak bola, sangat dilarang keras oleh FIFA.
Bahkan FIFA tidak akan segan memberikan sanksi terhadap pemain yang ketahuan menggunakan obat dopingan.
Penggunaan doping sendiri, dinilai tidak fair dan sportif dalam sepak bola. Paul Pogba bukan satu satunya pemain yang menggunakan doping.
Beberapa pemain pernah menggunakan doping ialah legenda Argentina Diego Maradona yang kedapatan menggunakannya pada tahun 1994, Pep Guardiola juga pernah kedapatan menggunakan doping ketika ia baru saja pindah ke Brescia pada tahun 2001.
Selain itu ada penjaga gawang Manchester United saat ini yang menjadi sorotan publik , Andre Onana kedapatan meminum obat yang diduga diresepkan untuk istrinya, dan ternyata itu adalah dopingan nya.
Lantas Apa Itu Doping?
Doping adalah Performance Enhancing Drugs (PED) yaitu jenis obat-obatan yang digunakan oleh atlet untuk meningkatkan kinerja atletik mereka dalam olahraga kompetitif.
Doping digunakan sebagai perangsang untuk mempertinggi prestasi atau menambah daya tahan sementara.
Namun, ia dilarang karena membahayakan atau merusak kesehatan. Doping ini semacam narkoba yang dapat membuat penggunanya kecanduan.
Akibatnya pun beragam mulai dari mengganggu kewarasan sampai berakibat pada sistem kinerja tubuh yang menurun bahkan memburuk.
Zat yang paling umum digunakan sebagai doping adalah agen androgenik, seperti steroid anabolik.
Konsumsi zat ini memungkinkan atlet untuk berlatih lebih keras, pulih lebih cepat, dan membangun lebih banyak otot.
Jenis Jenis Doping Yang Sering Digunakan
• Steroid Anabolik-androgen
Steroid anabolik-androgen merupakan doping yang dapat membantu atlet untuk berlatih lebih keras, meningkatkan massa otot dan kekuatan, serta bisa memulihkan tubuh dengan lebih cepat.
Banyak atlet yang menggunakan zat ini untuk menutupi cedera serius sehingga mereka mencapai masa pemulihan yang cepat setelah latihan keras.
Hal ini pun memungkinkan mereka untuk berlatih kembali dengan lebih keras dan lebih sering.
• Stimulan
Stimulan termasuk doping yang dapat meningkatkan kewaspadaan dan kemampuan dalam mengatasi kelelahan dengan meningkatkan detak jantung dan aliran darah.
Stimulan juga bisa menyebabkan agresi, yang mungkin saja menjadi sebuah keuntungan bagi atlet selama mengikuti kompetisi.
Zat yang termasuk stimulan ialah amfetamin, efedrin, dan kokain. Selain bisa berdampak buruk bagi kesehatan, stimulan dapat memberi efek kecanduan
• Obat diuretik dan masking agents
Beberapa atlet juga mengonsumsi obat-obatan diuretik dan zat penutup (masking agents) untuk mengeluarkan cairan dari dalam tubuh.
Cara ini memungkinkan mereka untuk menyembunyikan konsumsi obat-obatan lain, serta membantu meraih berat badan yang dinginkan agar bisa berpartisipasi dalam kompetisi olahraga, seperti tinju atau balap kuda.
• Diuretik
Jenis doping lainnya, yakni diuretik. Biasanya, diuretik digunakna dalam pengobatan hipertensi, gagal jantung, sirosis hati, gagal ginjal, penyakit ginjal, paru-paru dan untuk mengurangi efek samping dari garam dan/atau retensi air.
Sementara itu, atlet biasa menggunakannya untuk menghilangkan air dari tubuh dan menurunkan berat badan lebih cepat yang dapat membantu mereka dalam memenuhi kategori berat badan pada olahraga tertentu.
Diuretik juga digunakan untuk menutupi agen doping lain karena bisa mengurangi konsentrasinya dalam urin dan dengan mengubah pH urin
• Analgesik Narkotik dan Cannabinoid
Dalam istilah medis, narkotika analgesik adalah opioid, yaitu zat yang bertindak secara farmakologis seperti morfin dan dapat membuat seseorang kecanduan.
Opioid digunakan untuk menutupi rasa sakit yang disebabkan oleh cedera atau kelelahan sehingga memungkinkan atlet untuk tetap berolahraga meskipun tubuh mereka sedang mengalami kerusakan.
• Penghambat beta
Obat penghambat beta (beta blocker) biasanya diresepkan untuk mencegah serangan jantung dan menurunkan tekanan darah tinggi (hipertensi).
Dalam beberapa kasus, obat ini disalahgunakan dalam olahraga memanah dan menembak dengan tujuan menjaga detak jantung tetap lambat serta mengurangi gemetar pada tangan.
Efek Samping Menggunakan Doping
• Kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah): detak jantung tak beraturan, meningkatnya tekanan darah, serangan jantung, dan kematian mendadak.
• Sistem saraf pusat: insomnia, gangguan kecemasan, depresi, perilaku agresif, bunuh diri, sakit kepala, kecanduan dengan gejala putus obat, psikosis, tremor, pusing, stroke.
• Pernapasan: mimisan dan sinusitis.
• Hormonal: gangguan kesuburan, ginekomastia (pembesaran payudara), penurunan ukuran testis, gairah seks rendah, akromegali (produksi hormon pertumbuhan berlebihan pada orang dewasa), dan kanker. (Muhammad Hafidz Fauzan/ RADAR JOGJA)