JOGJA - Sebagai langkah mengantisipasi ancaman bencana alam yang dapat terjadi sewaktu-waktu, SMK-SMTI Yogyakarta rutin menggelar simulasi kebencanaan dan pelatihan penggunaan APAR (Alat Pemadam Api Ringan).
Langkah tersebut dilaksanakan untuk menumbuhkan kesadaran dan kesiapsiagaan seluruh warga sekolah dalam menghadapi bencana.
Mengenai simulasi bencana gempa bumi, Kepala SMK-SMTI Yogyakarta Sarman memahami bahwa Yogyakarta merupakan wilayah rawan bencana.
Oleh karena itu, pihak sekolah berkomitmen menggelar simulasi kebencanaan rutin setiap tahun.
Simulasi yang dilakukan berupa menghadapi bencana gempa bumi dan penanganan kebakaran.
Baca Juga: Antrean BBM di Bali Bikin Macet, Gubernur Koster Tenangkan Warga: Stok Aman
Ia menyatakan, simulasi tersebut dirancang agar seluruh para siswa hingga jajaran guru maupun staf dapat memahami prosedur evakuasi yang benar ketika terjadi bencana.
Misalnya paham dalam melakukan perlindungan diri dan memetakan jalur menuju titik evakuasi.
"Di Jogja kan sering terjadi gempa. Ketika memang ada kejadian, harapannya anak-anak dan seluruh warga sekolah sudah mengerti apa yang harus dilakukan. Makanya ini menjadi agenda tahunan yang rutin diadakan," ujar Sarman kepada Radar Jogja, Senin (12/10/2026).
Dalam pelaksanaan simulasi bencana gempa bumi, SMK SMTI Yogyakarta bekerja sama dan berkonsultasi langsung dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Konsultasi yang dilakukan meliputi penyusunan skenario serta memastikan ketersediaan infrastruktur aman bencana di lingkungan sekolah.
Baca Juga: Merapi Kirim Sinyal Bahaya, Waspadai Awan Panas Guguran di Sektor Selatan
Sarman menjelaskan, simulasi kebencanaan diikuti secara masif oleh sekitar 700 warga sekolah. Terdiri dari 600 siswa serta 100 guru dan staf karyawan.
Simulasi diterapkan dengan suasana di tengah-tengah kegiatan belajar mengajar (KBM) yang sedang berlangsung.
“Saat guru sedang mengajar, tiba-tiba terjadi gempa. Dari situ kami lihat dan arahkan bagaimana anak-anak merespons. Sebelum simulasi, tentu sudah ada pembekalan di kelas terkait penanggulangan gempa," jelasnya.
Selain membekali siswa, pihak sekolah juga membentuk Tim Siaga Bencana yang bertugas sebagai koordinator di lapangan.
Para guru yang tergabung dalam tim ini siap mengambil alih kendali dan mengarahkan proses evakuasi jika situasi darurat benar-benar terjadi.
Baca Juga: Awas Asam Lambung Naik, Kenali 5 Dampak Tidur Setelah Makan
Sarman menegaskan, pengetahuan tentang kebencanaan dan konsistensi dalam mengasah kesadaran mitigasi bencana di lingkungan sekolah menjadi hal penting.
Sebab tanpa simulasi dapat memicu kepanikan, terutama bagi siswa baru yang belum pernah menerima pelatihan.
Tidak hanya simulasi bencana gempa bumi, SMK-SMTI Yogyakarta juga melaksanakan pelatihan APAR (Alat Pemadam Api Ringan) sebagai langkah antisipasi jika terjadi kebakaran di lingkungan mereka. Kegiatan ini diikuti oleh kelas XI, baik dari konsentrasi keahlian Teknik Kimia Industri, Kimia Analisis, dan Teknik Mekatronika dengan narasumber dan pelatih dari pegawai yang sudah memiliki pengalaman dan kompetensi dalam penggunaaan APARR.
“Kita juga rutin melakukan pelatihan APAR bagi kelas XI, agar mereka tahu dan cepat tanggap & responsif jika kebakaran di sekitar anak-anak. Narsumnya langsung dari guru dan laboran yang sudah memiliki pengalaman dan kompetensi”, ujar Sarman.
Baca Juga: Pagar SMP Negeri 4 Pengasih Diganjal Tiang Kayu, Bupati Kulon Progo Janjikan Perbaikan Tahun 2027
Selain melakukan pelatihann, anak-anak juga dilibatkan langsung untuk mencoba dalam mengoperasikan APAR. Mereka dilatih untuk dapat menangani berbagai macam jenis alat serta cara penggunaannya.
Ke depan, SMK-SMTI Yogyakarta berencana bekerja sama dengan BPBD untuk memasukkan materi penanggulangan bencana ke dalam rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Supaya para siswa baru bisa memiliki pengetahuan kebencanaan.
"Bencana alam itu tidak bisa diprediksi. Jadi kesadaran ini harus terus-menerus dipupuk dan diingatkan. Simulasi ataupun pelatihan ini minimal harus diadakan satu kali dalam setahun,” tegas Sarman. (inu)
Editor : Meitika Candra Lantiva