Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Merapi Kirim Sinyal Bahaya, Waspadai Awan Panas Guguran di Sektor Selatan

I
Penulis: Iwa Ikhwanudin❯
ILUSTRASI: Gunung Merapi Kembali Bergejolak Pagi Ini, Warga di 4 Kabupaten Diminta Tinggalkan Zona Merah.
ILUSTRASI: Gunung Merapi Kembali Bergejolak Pagi Ini, Warga di 4 Kabupaten Diminta Tinggalkan Zona Merah.

Advertisement

 SLEMAN - Pagi di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah selalu diwarnai oleh pesona megah Gunung Merapi. Namun, di balik keindahan parasnya yang membentang di langit berawan, gunung setinggi 2.968 meter di atas permukaan laut ini menyimpan gejolak yang tak boleh dipandang sebelah mata. Ia bernapas, dan napasnya membawa pesan penting bagi kelangsungan hidup jutaan warga di sekitarnya.

​Laporan terbaru dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) pada Selasa, 13 Oktober 2026, memotret dengan jelas denyut nadi Merapi. Sepanjang periode pengamatan pukul 06.00 hingga 12.00 WIB, cuaca lereng tampak cukup bersahabat. Asap kawah berwarna putih mengepul perlahan dari puncak, menjulang setinggi 150 meter ke udara, membisikkan bahwa aktivitas vulkanik yang intens masih terus berlangsung.

​Di balik ketenangan visualnya yang syahdu, perut Merapi sesungguhnya sedang bergolak. Alam tak pernah berbohong tentang apa yang terjadi di kedalaman bumi. Tercatat ada puluhan gempa yang merobek kesunyian bawah tanah, menjadi sinyal alamiah yang jelas bahwa magma masih merayap dan mencari jalan keluar menuju bibir kawah.

Advertisement

​Fenomena paling mendebarkan pada periode ini adalah guguran lava yang kembali menyapa lereng gunung. Sebanyak tiga kali, tumpahan material vulkanik terpantau meluncur deras membelah sunyinya lereng. Guguran pijar ini tak tanggung-tanggung, melesat menuruni lereng sejauh dua kilometer atau 2.000 meter dari pusat kawah.

​Arah luncuran lava tersebut terfokus kuat pada sektor barat daya, mengarah ke jalur-jalur air yang sudah sangat familier di telinga warga sekitar. Kali Sat atau Kali Putih, Kali Krasak, serta Kali Boyong kembali menjadi rute alami perjalanan material vulkanik tersebut. Jejak-jejak lava ini seakan mengingatkan manusia betapa alam selalu memiliki jalur hidupnya sendiri.

​Kegelisahan Merapi tak hanya dapat dilihat dengan mata telanjang, tapi juga terekam sangat peka oleh instrumen pencatat gempa. Terhitung ada 19 kali gempa guguran yang menggetarkan batuan bumi, disusul satu kali gempa tremor non-harmonik. Rangkaian getaran ini ibarat detak jantung sang gunung yang sedang berpacu jauh lebih cepat dari biasanya.

Advertisement

​Belum berhenti di situ, rentetan 11 kali gempa hybrid atau fase banyak, serta satu gempa vulkanik dangkal, semakin mempertegas tingginya tekanan energi di bawah kawah. Dua gempa tektonik jauh pun turut terekam oleh alat seismograf, melengkapi simfoni kegempaan yang mengiringi napas Merapi di siang hari tersebut.

​Rentetan data kegempaan dan rentetan guguran ini bukanlah sekadar angka mati di atas kertas. Ini adalah bukti sahih bahwa suplai magma dari dapur perut bumi masih terus mengalir deras ke permukaan. Pasokan energi tiada henti ini merupakan bahan bakar utama yang kapan saja bisa memicu meledaknya awan panas guguran, atau yang kerap disapa "wedhus gembel" oleh masyarakat lokal.

​Menyadari besarnya potensi risiko dan ancaman nyawa, status Gunung Merapi hingga kini masih terkunci kokoh pada Level III atau Siaga. Rekomendasi ketat pun telah dikeluarkan dengan memetakan zona bahaya merah. Pada sektor selatan-barat daya, ancaman mengintai aliran Sungai Boyong hingga radius 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh 7 kilometer.

​Sementara itu, beralih ke sektor tenggara, aliran Sungai Woro diwaspadai hingga jarak 3 kilometer dan Sungai Gendol mencapai 5 kilometer. Ancaman ini tak sebatas aliran awan panas dan guguran lava semata; lontaran material vulkanik mematikan akibat letusan eksplosif bisa secara mendadak melontarkan batu pijar hingga radius 3 kilometer dari puncak.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar JogjaIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Jakmania Kemungkinan Datang Melebihi Kuota, Panpel PSIM Siapkan Mitigasi di SSA

Jakmania Kemungkinan Datang Melebihi Kuota, Panpel PSIM Siapkan Mitigasi di SSA

Jakmania Kemungkinan Datang Melebihi Kuota, Panpel PSIM Siapkan Mitigasi di SSA

Laga Kontra Persija Digelar Sore di SSA, Penyesuaian Kick-off Jadi Langkah Mitigasi Keamanan

Laga Kontra Persija Digelar Sore di SSA, Penyesuaian Kick-off Jadi Langkah Mitigasi Keamanan

Pertandingan PSIM Jogja kontra Persija Jakarta pada pekan keempat BRI Super League 2026/2027 dipastikan digelar sore hari di Stadion Sultan Agung (SSA), Bantul. Perubahan waktu kick-off dari malam ke sore dilakukan ...

Dinas PUPESDM DIY Lakukan Indentifikasi dan Mitigasi di Kawasan Rawan Longsor Perbukitan Menoreh

Dinas PUPESDM DIY Lakukan Indentifikasi dan Mitigasi di Kawasan Rawan Longsor Perbukitan Menoreh

Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral (PUPESDM) DIY baru saja mengadakan focus group discussion (FGD) tentang standar pelayanan minimal (SPM) lokasi ...

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer