JOGJA - Memasuki peralihan musim kemarau ke penghujan (pancaroba), Dinas Kesehatan Kota Jogja mengingatkan ancaman Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Pasalnya, kondisi cuaca terik dan suhu panas meningkatkan potensi penyebaran jenis penyakit tersebut.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kota Jogja Lana Unwanah mengatakan, kasus ISPA pada musim pancaroba umumnya bisa menyerang kelompok rentan. Khususnya kategori lansia dan balita.
Penyebabnya, karena pada masa peralihan musim lansia dan balita cenderung mengalami penurunan daya tahan tubuh. Salah satunya akibat paparan sinar matahari terik dan berkurangnya cairan tubuh (dehidrasi) akibat suhu panas.
Baca Juga: Gelar Jelajah Kulinerun; Kenalkan Kekayaan Budaya Tamanmartani melalui Event Lari dan Bersepeda
Berdasarkan catatan Dinkes Kota Jogja, selama musim kemarau dan mendekati pancaroba kasus ISPA mengalami peningkatan cukup signifikan. Hingga pertengahan tahun tercatat 61.845 kasus ISPA yang dilaporkan ke fasilitas pelayanan kesehatan.
Lansia dan balita merupakan penderita terbanyak kedua dan ketiga setelah paling banyak dari kategori dewasa. "Secara umum ada peningkatan, tetapi masih dalam rentang kendali dan terus kami tangani dengan baik," ujar Lana saat ditemui di Balai Kota, Selasa (6/10).
Lana mengingatkan agar masyarakat menghindari aktivitas di luar ruangan pada jam-jam dengan paparan sinar matahari paling menyengat. Contohnya antara pukul 10.00 hingga 15.00.
Baca Juga: Tegangnya Nobar di Warkop saat Indonesia Juarai FIFA ASEAN Cup usai Tumbangkan Thailand
Namun jika memang terpaksa harus beraktivitas di luar pada rentang waktu tersebut, ia berpesan tentang pentingnya penggunaan alat pelindung diri. Misalnya sunscreen untuk muka dan kulit, topi, dan payung.
Menurutnya, langkah perlindungan diri penting untuk mencegah kehilangan cairan tubuh berlebih. Sekaligus mencegah kulit terbakar akibat panas matahari.
"Dalam kondisi cuaca terik seperti ini, kami juga mengimbau agar memperbanyak asupan air minum untuk menjaga kadar cairan tubuh," tambah Lana.
Terpisah, Kepala Kelompok Data dan Informasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jogjakarta Etik Setyaningrum menyebut, fenomena suhu panas di DIJ disebabkan aktivitas El Nino. Yakni pemanasan suhu muka laut Samudera Pasifik.
Baca Juga: Pieter Huistra Berharap Perjuangan Para Pemainnya Dapat Terbayarkan
Kategori El Nino tahun ini masuk kategori sangat kuat dan diprediksi bertahan hingga awal 2027. Etik membeberkan, berdasarkan pantauannya suhu muka air laut di perairan selatan DIY menyentuh 26 hingga 28 derajat celcius. Kondisi itu secara langsung akan berdampak pada suhu udara di wilayah daratan.
Namun berdasarkan analisa BMKG suhu yang terjadi belum dikategorikan panas ekstrem. "Hanya untuk tiga bulan ke depan curah hujan masuk kategori rendah,” bebernya. (inu/laz)
Editor : Herpri Kartun
Sumber : Radar Jogja