Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Raperda Ripparda Kabupaten Sleman 2026-2045, Ubah Paradigma Mass Tourism Menuju Quality Tourism

Y
Penulis: Yogi Isti Pujiaji❯
Wisatawan berkeliling menggunakan jasa jip wisata Merapi di Kali Kuning, Cangkringan, Sleman
Wisatawan berkeliling menggunakan jasa jip wisata Merapi di Kali Kuning, Cangkringan, Sleman

Advertisement

SLEMAN - Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah (Ripparda) Kabupaten Sleman 2026-2045 menjadi road map pengembangan sektor pariwisata Bumi Sembada jangka panjang. Kebijakan ini akan menjadi arah baru pembangunan pariwisata yang berbasis manfaat ekonomi, keberlanjutan lingkungan, dan pemerataan kesejahteraan masyarakat.

Dalam dua dekade ke depan pembangunan pariwisata Kabupaten Sleman diharapkan bisa menjadi motor penggerak ekonomi daerah. Dengan Ripparda 2026-2045, arah kebijakannya tidak lagi sekadar mengejar angka kunjungan wisatawan secara kuantitas. Tetapi mewujudkan quality tourism atau pariwisata berkualitas dan berkelanjutan.

Ketua Badan Pembentukan Peraturan Daerah (Bapemperda) DPRD Kabupaten Sleman Budi Sanyata SPd menegaskan bahwa komitmen transformasi ini tetap berjalan selaras dengan upaya peningkatan jumlah wisatawan secara bertahap dan terukur. Menurutnya, pertumbuhan jumlah turis harus diimbangi oleh kesiapan daya dukung daerah agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan maupun sosial.

Budi mengatakan, pengembangan pariwisata ke depan harus berdampak pada peningkatan kesejahteraan yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat.

Ada empat daya dukung utama yang menjadi pilar krusial dalam Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Ripparda 2026–2045. Pilar pertama menitikberatkan pada penyediaan infrastruktur fisik yang memadai dan ramah bagi wisatawan melalui konsep 'dalan padhang, dalan alus' (jalan terang dan jalan mulus). “Tentu ini juga sejalan dengan visi misi bupati dan wakil bupati Sleman,” ungkap politikus PDI Perjuangan.

Advertisement

Pembangunan infrastruktur ini mencakup perbaikan serta pengaspalan jalan menuju destinasi wisata, penambahan lampu penerangan jalan umum (LPJU), hingga pemasangan fasilitas keselamatan seperti cermin cembung di titik-titik rawan kecelakaan. Aksesibilitas yang aman dan nyaman dinilai menjadi kunci utama daya tarik sebuah destinasi.

Jalan yang aman dan nyaman, lanjut Budi,  menjadi salah satu faktor penting alasan wisatawan datang ke sebuah tempat wisata. "Makanya ini perlu didorong,” tandasnya.

Daya dukung kedua terletak pada optimalisasi sarana akomodasi dan potensi kebudayaan lokal. Sleman terus memperkuat keberadaan jaringan hotel, keberlanjutan desa wisata, serta pengembangan desa budaya yang tersebar di berbagai wilayah agar mampu menyajikan pengalaman autentik bagi para pelancong.

Sedangkan pilar ketiga berfokus pada integrasi potensi kekayaan alam Merapi dan sekitarnya dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Sektor ini mendorong peran aktif para agen perjalanan dan seluruh pelaku industri wisata agar makin profesional dan memiliki standar pelayanan tinggi.

Pilar keempat adalah penciptaan iklim investasi yang kondusif. Pemerintah daerah berkomitmen memberikan kemudahan regulasi perizinan serta skema pemberian insentif bagi para investor yang siap mendukung pembangunan pariwisata berwawasan lingkungan di Sleman.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar JogjaIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

 Penumpang WNA Naik 7,8 Persen, KAI Daop 6: Dongkrak Ekonomi Pariwisata

Penumpang WNA Naik 7,8 Persen, KAI Daop 6: Dongkrak Ekonomi Pariwisata

KAI Daop 6 Jogjakarta mencatat jumlah penumpang warga negara asing (WNA) mencapai 264.335 orang sepanjang Januari–September 2026. Jumlah itu meningkat 7,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak..

Pemkot Jogja Uji Coba Drop Zone Bus Pariwisata, Sosialisasi Terbatas dan Akses Berbelok Jadi Kendala

Pemkot Jogja Uji Coba Drop Zone Bus Pariwisata, Sosialisasi Terbatas dan Akses Berbelok Jadi Kendala

Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja mulai menguji coba drop zone khusus bus pariwisata untuk menurunkan penumpang rombongan besar. Fasilitas tersebut disiapkan sebagai salah satu solusi setelah Tempat Khusus Parkir (TKP) ...

Cucu Sultan HB X Minta Tindak Tegas Pungli; Merugikan  Iklim Pariwisata Jogja

Cucu Sultan HB X Minta Tindak Tegas Pungli; Merugikan  Iklim Pariwisata Jogja

Keraton Jogja menegaskan komitmennya untuk menindak tegas segala bentuk pungutan liar (pungli) yang baru-baru ini marak dikeluhkan masyarakat. Langkah penertiban ini dilakukan demi menjaga citra DIJ sebagai kota budaya

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer