JOGJA – Jumlah perokok anak di Kota Jogja meningkat menjadi 4,17 persen atau sekitar 660 anak pada Januari–September 2026, naik dibandingkan 3,04 persen atau 508 anak sepanjang 2025. Lingkungan keluarga dan pertemanan menjadi faktor utama yang memengaruhi anak mulai merokok.
Kepala Seksi Promosi Kesehatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja Yusnita Susila Astuti mengatakan, angka tersebut berdasar kriteria usia anak 10-17 tahun yang berjumlah 16.000 jiwa. Persentase anak perokok ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Faktor utama penyebab anak merokok dipengaruhi oleh lingkungan. Misalnya ada anggota keluarga satu rumah atau memiliki teman sepermainan yang merokok.
“Masa remaja sedang masuk masa pencarian jati diri, sehingga cenderung senang mencoba-coba,” ujar Yusnita saat dikonfirmasi lewat pesan singkat, Rabu (23/9/2026).
Baca Juga: Stunting di Kot Jogja Turun Signifikan, Kini Jadi 8,24 Persen: Klaim Intervensi Gizi sejak Dini
Kebiasaan merokok pada anak-anak membawa dampak buruk. Terutama penyakit tidak menular. Seperti kanker paru-paru, hipertensi, hingga serangan jantung. Bahkan paparan asap rokok juga bisa menyebabkan infeksi saluran pernafasan akut (ISPA). Dinkes terus berupaya untuk mencegah anak menjadi perokok maupun terpapar asap rokok. Kegiatan yang dilakukan tidak hanya edukasi. Namun juga monitoring dan evaluasi (monev) kawasan tanpa rokok (KTR).
“Kami berharap melalui monev KTR rutin setiap tahun dapat meningkatkan kesadaran dan kepatuhan masyarakat serta pengelola dalam mewujudkan kawasan tanpa rokok,” katanya.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Jogja Wawan Harmawan menegaskan, pengendalian rokok bagi generasi muda menjadi salah satu prioritas pemerintah kota (pemkot) saat ini. Peningkatan jumlah perokok usia anak dan remaja merupakan masalah serius yang harus segera ditangani.
Baca Juga: Pemkab Gunungkidul 85 Ribu Hektare Lahan Disiapkan untuk Penuhi Kebutuhan Pengembangan Bioetanol
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan tahun 2023 proporsi perokok tertinggi justru berasal dari kelompok usia 15–19 tahun yang mencapai 56,5 persen, disusul anak usia 10–14 tahun sebesar 18,4 persen.
“Kami percaya edukasi sejak dini adalah kunci. Anak-anak harus dibekali pemahaman yang benar agar mampu menolak rokok,” katanya. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita