Singkong DIY Disiapkan Jadi Bahan Baku Bioetanol, Masyarakat Singkong Indonesia Gandeng Pemprov

Cintia Yuliani • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 21:41 WIB
Ketua Umum MSI Arifin Lambaga (pakai kacamata). Cintia Yuliani/Radar Jogja
Ketua Umum MSI Arifin Lambaga (pakai kacamata). Cintia Yuliani/Radar Jogja

JOGJA - Singkong tak lagi sekadar dipandang sebagai komoditas pangan. Tanaman yang lekat dengan kuliner tradisional DIY itu kini diproyeksikan menjadi salah satu bahan baku energi terbarukan. DPP Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) menggandeng Pemprov DIY mengembangkan budi daya singkong sebagai pemasok bahan baku bioetanol.

Ketua Umum MSI Arifin Lambaga mengatakan, kebutuhan energi berbasis bioetanol berpotensi terus meningkat seiring rencana pemerintah meningkatkan campuran etanol dalam bensin. Saat ini, campuran bioetanol dalam bensin masih berada pada level E5.

"Jadi kita menyampaikan kebersediaan untuk kita kembangkan budi daya singkong untuk menyuplai kebutuhan produksi bioetanol itu," katanya usai audiensi dengan Guburnur DIY Hamengku Buwono (HB) X di Gedhong Wilis  Kompleks Kepatihan, Kamis (10/9/2026).

Baca Juga: Tak Kuat Bertahan di Lokasi Transmigrasi, Satu KK Asal Jogja Pilih Pulang

Menurutnya, kebutuhan bioetanol akan melonjak apabila pemerintah merealisasikan target E20, yakni campuran 20 persen bioetanol dengan 80 persen bensin. Kondisi tersebut membuka peluang besar bagi petani singkong untuk masuk dalam rantai pasok industri energi.

Singkong dinilai memiliki prospek sebagai bahan baku karena dapat dipasok dalam bentuk singkong segar maupun gaplek. Skema tersebut sekaligus membuka ruang bagi masyarakat untuk terlibat dalam penyediaan bahan baku, mulai dari budi daya hingga pengolahan hasil panen. Untuk memenuhi kebutuhan produksi dalam skala industri, MSI memperkirakan diperlukan kawasan budi daya yang cukup luas. 

"Dengan asumsi produksi bioetanol sekitar 50 ribu liter per hari, kebutuhan lahan diperkirakan mencapai sekitar 5.000 hektare,” jelasnya. 

Baca Juga: Kali Pertama Digelar, Forum Saling Tukar Pengalaman Pengelola Perpustakaan

Arifin menyebut DIY memiliki sejumlah keunggulan untuk dikembangkan sebagai salah satu sentra bahan baku bioetanol. Selain memiliki sejarah panjang dalam budi daya singkong, posisi DIJ yang berada di tengah Pulau Jawa dinilai strategis untuk mendukung distribusi bahan baku maupun produk.

Dukungan pemprov terhadap pengembangan industri berbasis pertanian juga menjadi faktor penting. Dia menyebut, Gubernur DIY HB X memiliki perhatian besar terhadap upaya menghubungkan sektor pertanian dengan kebutuhan industri. "Jadi sebetulnya yang diinginkan oleh Ngarsa Dalem, bagaimana kita mengajak masyarakat untuk shifting persepsi, paradigma, pola pikir kita dari agraris menjadi industri," terangnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY Aris Eko Nugroho mengatakan, DIY berpeluang dikembangkan sebagai salah satu lokasi penyedia benih atau bibit singkong. Pengembangannya akan dikaji dengan skala tertentu dan melibatkan masyarakat. "Ini masih proses sehingga saya belum bisa mengatakan di mana dan sebagainya, karena juga nanti harus dengan masyarakat," katanya.

Baca Juga: Kenaikan BB Balita di Posyandu Baru 50 Persen, Pemkot Genjot Peran Orang Tua Pantau Pertumbuhan Anak

Pihaknya tengah menginventarisasi berbagai varietas singkong lokal. Di Gading, Gunungkidul, terdapat lebih dari 34 nama atau varietas singkong yang sedang dalam proses pendaftaran melalui Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). "Dari target kami kurang lebih 50-an varietas singkong," bebernya. (cin/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
Bioetanol Masyarakat Singkong Indonesia Pemprov DIY singkong bahan baku