Wisatawan Naik, Okupansi Hotel Malah Turun, Dispar DIY Siapkan Event untuk Perpanjang Masa Tinggal

Cintia Yuliani • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 20:30 WIB
JADI JUJUKAN: Pengendara sedang melewati Jalan Malioboro yang masih menjadi lokasi favorit kunjungan wisatawan. Meski demikian, banyaknya pengunjung tidak mendongkrak okupansi hotel. (Cintia Yuliani/Radar Jogja)
JADI JUJUKAN: Pengendara sedang melewati Jalan Malioboro yang masih menjadi lokasi favorit kunjungan wisatawan. Meski demikian, banyaknya pengunjung tidak mendongkrak okupansi hotel. (Cintia Yuliani/Radar Jogja)

JOGJA - Jumlah perjalanan wisatawan ke DIY pada Juli 2026 meningkat, tetapi tingkat okupansi hotel justru menurun. Kondisi ini menunjukkan semakin banyak wisatawan yang datang ke Jogja tanpa menginap atau hanya melakukan perjalanan sehari (one day trip).

Badan Pusat Statistik (BPS) DIY mencatat, jumlah perjalanan wisatawan pada Juli mencapai 4,28 juta perjalanan. Angka tersebut naik 0,5 persen dibandingkan Juni yang mencapai 4,26 juta perjalanan.

Namun, kenaikan jumlah perjalanan tersebut tidak diikuti tingkat hunian hotel. Okupansi hotel berbintang pada Juli hanya 58,51 persen, turun 1,85 persen dibandingkan Juni yang mencapai 60,36 persen.

“Okupansi hotel berbintang bulan Juni 60,36 persen, sedangkan bulan Juli 58,51 persen,” ujar Plt Kepala BPS DIY Endang Tri Wahyuningsih Minggu (6/9).

Baca Juga: Pohon Pinus di Lahan 1,5 Hektare Milik Perhutani di Kebumen Terbakar

Penurunan juga terjadi pada hotel nonbintang dan akomodasi lainnya yang turun 0,69 poin secara bulanan. Jumlah tamu yang menginap di hotel pada Juli tercatat 829.327 orang, turun 5,70 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) DIY Eling Priswanto mengatakan, kondisi tersebut salah satunya dipengaruhi meningkatnya tren wisatawan yang hanya melakukan perjalanan sehari. Aksesibilitas yang semakin mudah membuat wisatawan dari daerah sekitar dapat datang pagi hari dan kembali pada hari yang sama. “Karena tidak menginap, tidak menambah okupansi hotel,” jelasnya.

Menurut Eling, data okupansi hotel juga tidak sepenuhnya menggambarkan seluruh tempat menginap wisatawan. Sebab, pencatatan umumnya mencakup hotel yang menjadi anggota Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI). Wisatawan bisa saja memilih menginap di rumah keluarga maupun akomodasi lain.

Baca Juga: Tiga Hari sejak Hilang di Pantai Entak, Penjaring Ikan Ditemukan Meninggal di Pantai Setrojenar

Momentum libur sekolah dan sejumlah kegiatan yang digelar di DIY pada Juli juga dinilai turut memengaruhi pola perjalanan wisatawan. Kondisi tersebut sejalan dengan perubahan perilaku wisata yang semakin mengarah pada perjalanan singkat.

“Yang mungkin ada juga penyebabnya itu perubahan perilaku wisata,” katanya.

Eling menilai kondisi tersebut menjadi tantangan bagi sektor pariwisata. Sebab, meningkatnya jumlah kunjungan belum tentu diikuti peningkatan lama tinggal dan belanja wisatawan, termasuk untuk kebutuhan akomodasi.

Karena itu, Dispar DIY berupaya memperpanjang lama tinggal wisatawan melalui berbagai kegiatan dan event yang melibatkan peserta dari luar daerah. Strategi tersebut diharapkan tidak hanya mendatangkan wisatawan, tetapi juga membuat mereka tinggal lebih lama di Jogja. “Dalam waktu dekat ada event bulu tangkis, itu nasional,” bebernya.

Selain turnamen bulu tangkis, event selancar di Laguna Depok juga dijadwalkan berlangsung pada September. Berbagai event tersebut dinilai berpotensi memberikan dampak ekonomi karena mendatangkan wisatawan dan peserta dari luar daerah.

Meski demikian, Eling menegaskan turunnya okupansi hotel tidak serta-merta berarti aktivitas ekonomi wisatawan di DIY ikut menurun. Wisatawan yang tidak menginap tetap membelanjakan uangnya untuk kebutuhan lain selama berada di Jogja.

“Karena mereka tetap makan di sini, kemudian mungkin belanja di sini, hanya menginapnya saja tidak,” sebutnya. (cin/eno)

Editor : Sevtia Eka Novarita
Dinas Pariwisata (Dispar) DIY Wisata okupansi hotel event Wisatawan