Wali Kota Bekasi Belajar Pengelolaan Sampah ke Kota Jogja

Heru Pratomo • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 21:15 WIB
KOLABORASI: Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo berfoto bersama Wali Kota Tri Adhianto Tjahyono usai belajar penanganan sampah di Balai Kota Jogja, Jumat (7/8/2026). (Foto: Rizky wahyu/radar jogja)
KOLABORASI: Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo berfoto bersama Wali Kota Tri Adhianto Tjahyono usai belajar penanganan sampah di Balai Kota Jogja, Jumat (7/8/2026). (Foto: Rizky wahyu/radar jogja)

JOGJA – Di awal kepemimpinan Hasto Wardoyo dan Wawan Harmawan sebagai wali kota dan wakil wali kota Jogja menolak pengadaan mobil dinas baru. Keduanya sepakat untuk mengalihkan anggaran Rp 3 miliar untuk pengadaan gerobak sampah. Untuk penanganan sampah yang saat itu jadi PR.

Inisiatif itu menjadi salah satu alasan Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi, Jawa Barat melakukan kunjungan ke Kantor Balai Kota Jogja, Jumat (7/8/2026). Kunjungan yang dipimpin langsung Wali Kota Tri Adhianto Tjahyono dan seluruh jajaran OPD Kota Bekasi itu bertujuan untuk belajar pengelolaan sampah kepada Pemkot Jogja.

Tri Adhianto Tjahyono menjelaskan, kunjungan kali ini merupakan bagian dari program Pemkot Bekasi untuk bisa terus belajar dari kota-kota lain dan juga tokoh-tokoh yang berprestasi.  "Kami sudah inisiasi dengan Wali Kota Makassar, kami inisiasi dengan Wali Kota Surabaya, dan hari ini kami belajar di Kota Jogja," katanya usai berdiskusi. 

Baca Juga: Psikolog Sebut Burnout Tidak Bisa Jadi Dalih Lakukan Pencibiran, Kematangan Emosi Lebih Berpengaruh

Dalam kunjungan tersebut, selain belajar terkait pengelolaan sampah yang berada di Kota Jogja. Pemkot Bekasi juga belajar mengenai beberapa hal, seperti penanganan yang ada di Malioboro, Kali Code, lalu beberapa hal terkait pelayanan masyarakat. 

Pemilihan kunjungan di Pemkot Jogja ini bukan tanpa alasan. Menurutnya, Kota Jogja bisa bekerja sangat luar biasa dalam menghadapi persoalan sampah di daerahnya.  Sampah yang sering dianggap menjadi musibah, tetapi diolah menjadi berkah dan memiliki nilai value. “Tdak saja uangnya, tetapi yang lebih penting adalah terkait dengan pembangunan yang berkelanjutan," jelasnya. 

Maka dari itu, setelah melakukan kunjungan tersebut, Tri Adhianto berharap pihaknya dapat memetik ilmu dari Pemkot Jogja. Sehingga Pemkot Bekasi bisa mengimplementasikan ke daerahnya dalam rangka untuk menyejahterakan masyarakat Kota Bekasi. "Makanya kami membawa OPD yang banyak supaya kami bisa belajar, dan apa yang bisa kami aplikasikan akan kami aplikasikan di daerah kami," tegasnya. 

 Baca Juga: RSA UGM Menonaktifkan Perawat Yang Cibir Pasien BPJS, Sanksi Berat pun Menanti

Menanggapi kunjungan tersebut, Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo memaparkan sejumlah strategi kunci dan kreativitas yang diterapkan Pemkot Jogja hingga berhasil mengatasi persoalan penumpukan sampah. Ada beberapa langkah yang dilakukan oleh Pemkot Jogja untuk menangani persoalan sampah tersebut. 

Yang pertama, Pemkot Jogja mengerahkan sekitar 1.200 transporter atau petugas gerobak untuk menjemput sampah langsung dari rumah warga. "Pembayaran jasa penjemputan disepakati secara mandiri melalui musyawarah warga berbasis B2B dipimpin Ketua RT/RW," katanya. 

Pengadaan gerobak sebanyak itu adalah hasil pengalihan anggaran mobil dinas. Anggaran Rp 3 miliar, yang awalnya untuk dua mobil, bisa untuk membelikan sekitar 600 gerobak sampah. ” Kami bersama-sama membangun pelayanan publik supaya masyarakat bisa terpuaskan," ujarnya.

 Baca Juga: Rizky Alifian Ramadhan Diterima di UI, UGM dan Belasan PT Bergengsi Luar Negeri

Untuk memangkas titik kumuh, Pemkot Jogja menutup puluhan depo hingga tersisa 12 depo utama. Di sini Pemkot menerapkan prinsip 'sampah hari ini selesai hari ini' dengan melarang penumpukan sampah di depo sisa.

Lalu ada juga pembagian puluhan ribu ember plastik kapasitas 25 kg secara gratis kepada warga untuk memilah sampah dapur/organik basah. Setiap hari terkumpul 25–30 ton sisa makanan yang dijual oleh juru pilah (Jupilah) ke peternak babi lokal seharga enam sampai tujuh ribu per ember sebagai pakan ternak alami. 

Ada pula pemasangan seribu titik Biopori Jumbo berkedalaman hingga enam meter untuk mengolah residu organik menjadi kompos. Pemkot Jogja menggunakan sistem pemetaan digital, dengan indikator warna merah, kuning, hijau untuk memantau kapasitas biopori sebelum dipanen dan dimanfaatkan untuk pertanian.

Baca Juga: SMPN 4 Banguntapan Kenalkan Budaya Jawa kepada Siswa lewar Beragam Kegiatan Sekolah

Yang paling menarik adalah gerakan Masyarakat Jogja Olah Sampah (Mas JOS), Pemkot Jogja membentuk TRC untuk menjemput sampah berukuran besar (bulky waste) seperti kasur dan mebel secara gratis via layanan hotline agar masyarakat tidak membuangnya ke sungai. "Pemkot juga mendirikan Posko Satpol PP 24 jam di titik-titik rawan pembuangan sampah liar untuk penindakan tindak pidana ringan (tipiring)," beber Hasto. 

Yang terakhir, Pemkot Jogja juga menggerahkan Pasukan Badak dan alat berat untuk memfilter, serta membersihkan sampah di aliran sungai dari arah hulu (Sleman) sebelum memasuki wilayah Kota Jogja.  (ayu/pra)

Editor : Herpri Kartun
Sumber : Radar Jogja
pemkot bekasi hasto wardoyo Sampah Wawan Harmawan Tri Adhianto