Melihat Keseruan Melepasliarkan Tukik di Pantai Kembar Terpadu Kebumen; Meski Sudah Lama Pergi, Nanti Bertelurnya di Sini Lagi

Adib Lazwar Irkhami • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 20:41 WIB
EDUKASI: Anak-anak usia dini antusias melepasliarkan tukik atau bayi penyu di bibir pantai kawasan Konservasi Penyu Kembar Terpadu, Desa Tambakmulya, Puring, Kebumen. M. Hafied/Radar Jogja
EDUKASI: Anak-anak usia dini antusias melepasliarkan tukik atau bayi penyu di bibir pantai kawasan Konservasi Penyu Kembar Terpadu, Desa Tambakmulya, Puring, Kebumen. M. Hafied/Radar Jogja

 

JOGJA - Mentari perlahan turun di ufuk timur. Pantulan rona cahaya jingga seketika menghiasi wajah anak-anak yang berbaris rapi di bibir pantai. Di tangan mereka, ada seekor tukik atau bayi penyu yang ditempatkan pada besek bambu. Tukik itu sengaja dipersiapkan untuk dilepasliarkan sebelum memulai perjalanan hidupnya di samudera luas.

Sore itu puluhan pasang mata tertuju di satu titik Pantai Kembar Terpadu. Anak-anak dengan pendampingan orang tua tampak tergopoh demi menyaksikan langsung prosesi pelepasliaran tukik. Mereka begitu antusias melihat gerombolan bayi penyu dapat kembali ke habitat asal.

Baca Juga: Manajemen PSS Sleman Dukung Target Tim Pelatih Tembus Enam Besar

Dengan penuh hati-hati, mereka meletakkan anakan penyu di atas hamparan pasir. Perlahan, tukik hasil konservasi itu merayap menuju deburan ombak dari arah selatan. Jejak kaki kecil tukik di atas pasir lantas ikut menghilang tersapu air laut bersama perginya hewan mungil itu.

Sorak-sorai tanda gembira langsung terdengar begitu seekor tukik menjauh dari kerumunan. Satu per satu tukik menghilang ditelan ombak menuju alam asalnya. "Yang kami lepas, baru tiga hari menetas. Tapi sudah memungkinkan untuk kembali ke habitat," ucap Ketua Konservasi Penyu Kembar Terpadu Hartono, Rabu (5/8).

Bagi sebagian orang, pelepasliaran penyu sebagai bagian wisata yang memberikan pengalaman tersendiri. Tetapi di balik semua itu tersimpan nilai dan pelajaran penting. Bagaimana masyarakat turut aktif menjaga keberlangsungan hidup seekor penyu sebagai hewan dilindungi karena populasinya kian terancam.

Baca Juga: Dapat Kuota 10 Ribu Penonton saat Launching Team, PSS Sleman Tetap Hormati Keputusan dari Kepolisian 

Pengelola konservasi penyu memang sengaja mengundang masyarakat agar ikut terlibat dalam upaya pelestarian penyu. Selama kegiatan, pengelola tak henti-hentinya menjejali edukasi kepada pegunjung agar berpartisipasi aktif menjaga kelestarian penyu. 

Poin penting yang disampaikan bahwa setiap mahkluk punya peranan penting dalam menjaga keseimbangan alam, termasuk halnya penyu. "Ketika ekosistem laut tidak terjaga, kita tidak bisa lagi melihat keindahan laut. Tugas kita hanya menjaga bareng," kata Hartono.

Lewat pelepasliaran itu, pengelola konservasi hanya ingin memberikan pesan, menjaga penyu tidak cukup hanya dengan seremoni melepaskan tukik ke laut. Namun ada faktor lain yang perlu diperhatikan, seperti menjaga kelestarian habitat hingga kebersihan pantai. 

Baca Juga: Tak Hanya di Kafe, SoulCha Buktikan Matcha Relevan untuk Ekosistem Pameran Bisnis

Semua itu dinilai menjadi tanggung jawab bersama agar satwa langka itu tetap lestari. "Kami di sini tidak cuma fokus ke penyu, tapi tempatnya juga. Sarang bertelur kami jaga supaya berkesinambungan," katanya.

Pengelola menempatkan penyu sebagai satwa istimewa pada konteks ekosistem laut. Selain hewan langka, penyu disebut sebagai hewan paling setia terhadap tanah kelahirannya. Di mana setelah penyu jauh berkelana di hamparan samudera, penyu-penyu yang dulu menetas di satu tempat kelak akan kembali untuk bertelur di tempat yang sama. 

"Penyu itu hafal jalan pulang. Walaupun sudah lama pergi, nanti bertelurnya di sini lagi. Siklusnya seperti itu,"  ucapnya. (laz)

 

Editor : Herpri Kartun
Sumber : Radar Jogja
konservasi penyu tukik Boks pantai