Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Petilasan Goa Mangkubumi di Sragen Dirawat Warga, Jadi Jejak Perjuangan Lahirnya Kasultanan Jogja

Yusuf Bastiar • Kamis, 9 Juli 2026 | 21:26 WIB
DIRAWAT: Juru Kunci Goa Mangkubumi Wardi SAAT memberikan keterangan kepada wartawan.  Yusuf Bastiar/Radar Jogja
DIRAWAT: Juru Kunci Goa Mangkubumi Wardi SAAT memberikan keterangan kepada wartawan.  Yusuf Bastiar/Radar Jogja

 

JOGJA - Jejak perjuangan Bendara Pangeran Harya (BPH) Mangkubumi, pendiri Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang kemudian bergelar Sultan Hamengku Buwono I, masih terawat di Kabupaten Sragen.

Salah satunya Goa Mangkubumi di Desa Gebang, Kecamatan Masaran, yang menjadi tempat persembunyian sekaligus markas gerilya saat Mangkubumi menghindari kejaran pasukan VOC pada masa melawan Belanda.

Situs bersejarah itu hingga kini dijaga dan dirawat oleh masyarakat setempat.

Baca Juga: Segera Tunjuk Pj Kepala Desa, Pemkab Magelang Masih Memproses Pemberhentian Kades Sambeng

 Goa yang berada di bawah pohon beringin raksasa itu menjadi salah satu titik penting dalam rangkaian Muhibah Budaya DIJ ke Sragen tahun ini yang bertujuan merawat kembali jejak sejarah di kawasan Bumi Sukowati.

Juru Kunci Goa Mangkubumi Wardi mengatakan, lokasi tersebut awalnya hanya dikenal masyarakat sebagai Goa Gebang.

 Nama Goa Mangkubumi mulai digunakan setelah berbagai kajian sejarah menunjukkan tempat itu merupakan petilasan Pangeran Mangkubumi ketika bergerilya melawan Belanda.

Baca Juga: Edukasi Cegah Stunting dan Sampaikan Pesan Kamtibmas, Bhabinkamtibmas Ngestiharjo Kulon Progo Hadiri Posyandu di Turip

"Mulanya masyarakat mengenalnya sebagai Goa Gebang. Setelah diketahui menjadi tempat persinggahan Mangkubumi, akhirnya dikenal sebagai Goa Mangkubumi.

Cerita itu diwariskan secara turun-temurun oleh warga desa," ujarnya.

Menurut Wardi, berdasarkan cerita leluhur, Mangkubumi singgah di goa itu sebelum melanjutkan perjalanan ke wilayah Jekawal, Sragen.

Goa itu dipilih karena lokasinya tersembunyi di bawah rimbunnya akar pohon beringin sehingga aman dari pengejaran pasukan VOC.

 "Dari Jogja kemudian ke Pandak, lanjut ke Gebang, lalu bergerak ke Jekawal. Di sini beliau bersembunyi sekaligus bertapa sementara untuk menyusun strategi perang gerilya. Goa ini cukup untuk sekitar empat orang," katanya.

Baca Juga: Satpol PP Bantul Sita Ribuan Batang Rokok Ilegal Hasil Operasi di Pajangan

Sebagai juru kunci, Wardi mengaku rutin membersihkan kawasan sekitar goa agar tetap terawat. Ia juga memperbaiki bagian-bagian kecil yang mengalami kerusakan agar situs bersejarah tersebut tetap lestari. 

"Harapan kami masyarakat ikut menjaga bersama. Saya rutin menyapu dan membersihkan area sekitar. Kalau ada bagian yang rusak sedikit ya kami benahi supaya tetap bisa dinikmati anak cucu nanti," ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan DIY Dian Lakshmi Pratiwi menjelaskan, perjuangan BPH Mangkubumi bermula dari sengketa hak tanah seluas 3.000 cacah di Sukowati yang dipicu kebijakan VOC bersama pihak keraton. 

Perselisihan itu mendorong Mangkubumi meninggalkan Surakarta pada 19 Mei 1746 untuk memulai perang gerilya yang kemudian berujung pada lahirnya Kasultanan Yogyakarta.

Baca Juga: Viral! Surat Tagihan Pajak Palsu Catut Nama BKAD Sleman, Begini Klarifikasinya

Menurut Dian, Goa Mangkubumi merupakan satu dari enam situs utama perjuangan Mangkubumi di Sragen yang memiliki nilai sejarah sangat tinggi.

"Goa Mangkubumi menjadi markas gerilya Mangkubumi pada periode 1746 - 1748.

Lokasinya terlindungi benteng alam berupa aliran sungai dan di kawasan itu terdapat sekitar 15 makam prajurit tanpa nisan sebagai bagian dari strategi intelijen untuk menyamarkan keberadaan pasukan," jelasnya.

Selain Goa Mangkubumi, terdapat Pendopo Pandak di Krikilan yang menjadi titik awal pembentukan pemerintahan perlawanan, Ngrancang Kencana sebagai lokasi penyusunan strategi perang, 

Kandang Majapahit tempat terjalinnya aliansi dinasti melalui pernikahan keluarga Mangkubumi dan RM Said, Situs Panonopan yang menjadi pos pengintaian di tepi Bengawan Solo, serta Punden Sumberan di Japoh, Jenar, yang menjadi lokasi diplomasi menuju Perjanjian Giyanti 1755. 

Baca Juga: Innalillahi, Pekerja Tewas Trtimpa Tembok Roboh di Sleman: Dugaan Awal karena Tembok Bangunan Sudah Rapuh

Dian menegaskan Muhibah Budaya DIY ke Sragen tahun ini menjadi momentum menghidupkan kembali memori kolektif perjuangan Mangkubumi sekaligus memperkuat hubungan sejarah antara Jogjakarta dan Bumi Sukowati.

"Pelestarian situs-situs perjuangan ini bukan hanya menjaga benda cagar budaya, tetapi juga merawat nilai perjuangan, persatuan, dan identitas kebangsaan yang diwariskan BPH Mangkubumi kepada generasi sekarang maupun mendatang," tandasnya. (bas/laz)

Editor : Herpri Kartun
#Goa Mangkubumi #cagar budaya #bengawan solo #Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat #VOC