JOGJA - Kisah Warung Tongseng Mbah Sis yang beralamat di Jalan Dr. Amri Yahya, Pakuncen, Wirobrajan, Kota Jogja mungkin bisa menjadi inspirasi. Hampir 50 tahun berjualan kuliner non halal, pemiliknya memutuskan berhijrah usai mendapatkan hidayah saat pandemi Covid-19. Berikut ceritanya.
Aroma gurih khas rempah langsung menyambar hidung kala kuah tongseng dipanaskan. Menunggu kuah mendidih, Maryati tampak cekatan meracik sayuran di atas piring sebelum disiram. Begitu terlihat sedap ketika tongseng buatannya disajikan dengan nasi putih hangat.
Harga kulinernya murah. Satu porsi tongseng sapi hanya Rp. 20 ribu. Sementara tongseng ayam Rp. 13 ribu, tongseng balungan Rp. 10 ribu. Jika menambah nasi putih pembeli hanya perlu menambah Rp 3 ribu. Harga yang sama untuk es teh atau es jeruk.
Namun dibalik itu, ternyata Warung Tongseng Mbah Sis dulunya menjual kuliner non halal. Selama 45 tahun atau sejak 1977 warung tongseng di sisi barat Pasar Serangan itu menjual makanan berbahan daging anjing. Tidak main-main, dulu warung tersebut bisa menghabiskan 40 kilogram daging anjing. Pelanggannya juga banyak dari luar daerah.
Tapi, Warung Tongseng Mbah Sis memilih hijrah setelah mendapatkan hidayah. Titik baliknya adalah saat pandemi Covid-19. Maryati menceritakan di tahun 2019 ibunya sempat mengalami sakit keras dan dalam kondisi kritis dalam perawatan di RSUP Dr Sardjito. Keajaiban datang, ibunya yang akrab disapa Mbah Sis dinyatakan sembuh.
Peristiwa yang nyaris merenggut nyawa itu membekas begitu dalam di sanubari Maryati dan keluarganya. Ada rasa syukur luar biasa, sekaligus sebuah tamparan spiritual yang menyadarkan mereka untuk segera berbalik arah.
“Gusti Allah sudah memberi kesempatan kedua untuk Ibu. Kami merasa ini saatnya untuk berubah pikiran, hidup lebih baik menurut ajaran agama,” ujar Maryati sembari tersengguk menangis, kala ditemui Radar Jogja, Selasa (7/7/2026).
Peristiwa tersebut menyadarkan putri kedua Mbah Sis itu untuk menjemput jalan terang. Setelah sempat tutup lama untuk masa pemulihan sang ibu dan menjalani pertobatan dengan berangkat umroh sekeluarga. Warung tersebut buka kembali pada tahun 2021 dengan wajah dan prinsip yang sepenuhnya baru.
Baca Juga: Amerika Serikat Tersingkir dari Piala Dunia 2026, Donald Trump Jadi Sasaran Sindirian Pemain Belgia
Segala peralatan memasak dirombak total dan diganti baru demi menjamin kehalalan. Menu ekstrem yang telah menghidupi keluarga selama puluhan tahun resmi dihapus, digantikan dengan daging ayam dan sapi.
Namun memilih jalan hijrah nyatanya tak pernah instan. Maryati mengaku kondisi ekonominya sempat jomplang alias merosot tajam. Pelanggan lama yang terbiasa dengan menu sebelumnya seketika hilang.
Tidak jarang dia juga menerima rentetan komplain. Meski begitu, pukulan ekonomi tidak menggoyahkan niatnya. Baginya, ketenangan batin sang ibu dan keluarga jauh lebih berharga daripada sekedar mengejar materi.
"Saya jualan ini seperti babat alas lagi dari nol. Awal-awal ganti itu jualan pertama nggak laku, cuma keluar beberapa piring saja," kenang Maryati.
Baca Juga: Terseret Dugaan Kasus Pelecehan Seksual, Ghaza Resmi Dikeluarkan dari Clash of Champions Season 3
Pelan tapi pasti, warung tongseng ayam dan sapi Mbah Sis mulai merangkak naik dan menemukan pasarnya sendiri. Berkat racikan bumbu warisan yang dipertahankan, kelezatan tongseng legendaris itu mulai memikat hati para pelanggan baru.
Meskipun sampai saat ini masih banyak yang mencari menu lama, Maryati selalu menjelaskan perubahan tersebut dengan senyuman. Menurutnya, mengelola warung milik ibunya bukan lagi tentang seberapa banyak puluhan kilogram daging yang bisa dihabiskan dalam semalam. Namun tentang menjaga sebuah komitmen.
“Urusan rezeki itu sudah diatur sama Gusti Allah. Yang penting sekarang, jualan jadi jauh lebih tenang,” tandas wanita 48 tahun itu. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin