JOGJA - Momen tahun ajaran baru membawa berkah bagi penjual seragam di Kota Jogja. Penjualannya meningkat pesat lima kali lipat dibandingkan hari-hari biasa.
Praktis kondisi ini mendongkrak pendapatan hingga Rp 15 juta saat momentum tersebut.
Pantauan Radar Jogja di sentra penjualan seragam Jalan Ibu Ruswo, Kelurahan Prawirodirjan, Kemantren Gondomanan dan Jalan Nyai Ahmad Dahlan, Kemantren Ngampilan Senin (6/7/2026) cukup ramai.
Belasan orang tua terlihat mengantre untuk bisa mendapatkan seragam sekolah.
Baca Juga: Jelang Penerapan Full Pedestrian, Pedagang Resah Omzet Turun: Berharap Pemerintah Lakukan Ini
Salah satu karyawan Toko Seragam Afira di Jalan Ibu Ruswo Sri Rahayu mengatakan, penjualan seragam sekolah memang meningkat pesat menjelang masa libur sekolah berakhir.
Bahkan mencapai lima kali lipat dibandingkan hari biasa.
Dalam sepekan terakhir tokonya mampu melayani sebanyak 50 pembeli. Berbeda dengan hari biasa yang hanya paling banyak 10 pembeli. Berkat serbuan pembeli tersebut pendapatan toko juga naik tajam.
“Musim seperti ini Rp 10 juta minimal sampai Rp 15 juta, kalau hari biasa paling bagus Rp 1-2 juta,” ujar Sri saat ditemui, Senin (6/7/2026).
Pada musim tahun ajaran baru seperti sekarang, penjualan seragam wajib yang paling banyak dicari seperti seragam merah putih (SD), seragam putih biru (SMP), dan seragam putih abu-abu (SMA).
Selain itu, komoditas seperti bendera merah putih juga tengah menjadi buruan untuk keperluan dekorasi perkantoran dan sekolah. Fenomena lonjakan berkah tahunan tersebut diprediksi akan terus bertahan sebelum tahun ajaran baru resmi dimulai.
“Mungkin puncaknya H-1 sebelum masuk sekolah,” ungkap Sri.
Selain di kawasan Jalan Ibu Ruswo, pusat penjualan seragam di Toko Dhe-Ka Jalan Nyai Ahmad Dahlan, Notoprajan, Ngampilan juga ketiban rezeki.
Rosiana, seorang pramuniaga mengungkapkan tokonya mampu menjual 50 sampai 100 setel seragam per hari pada momen tahun ajaran baru.
Rosiana mengungkapkan, di tengah musim libur sekolah seperti sekarang komoditas seragam juga banyak diburu oleh wisatawan. Alasannya, karena harga seragam di tingkat grosir cenderung lebih murah dibandingkan daerah asal.
“Kemarin ada pembeli dari Jakarta, kemudian terbaru ini kami mengirim ke Kalimantan,” bebernya. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita