JOGJA - Kasus gangguan jiwa di Kota Jogja diketahui terus bertambah. Selama periode satu tahun, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja mencatat ada peningkatan sebanyak 65 penderita.
Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Dinkes Kota Jogja Iva Kusdyarini mengatakan, sepanjang tahun 2024 penderita gangguan jiwa mencapai 3.433 orang. Kemudian satu tahun setelahnya naik menjadi 3.498 penderita.
Iva menyebut, dari banyaknya kasus yang tercatat di tahun 2025 mayoritas merupakan penderita gangguan jiwa berat dengan jumlah 1.116 orang. Kemudian disusul penderita depresi sebanyak 1.070 orang, lalu penderita gangguan cemas 979 orang, serta campuran dari penderita gangguan cemas dan depresi 433 orang.
“Faktor penyebab seseorang mengalami permasalahan kesehatan jiwa merupakan kombinasi faktor biologis, psikologis, dan sosial-ekonomi,” ujar Iva saat dikonfirmasi melalui pesan singkat, Kamis (14/5/2026).
Baca Juga: Harga Telur Ayam Merosot Gegara Stok Melimpah
Meski belum dapat menyampaikan data secara rinci terkait dengan kategori usia penderita gangguan jiwa di Kota Jogja. Iva mengungkap masalah kesehatan jiwa cukup rawan menyerang usia muda.
Hal itu merujuk data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023. Anak muda dengan usia 15-24 tahun ditempatkan pada kategori yang paling rawan mengalami depresi dibandingkan kelompok umur lainnya. Namun ironisnya, justru mereka yang paling sedikit mengakses pengobatan.
Secara nasional, pemerintah pusat terus mendorong pemerintah daerah untuk melakukan skrining kesehatan jiwa. Baik itu komunitas seperti di perkantoran, sekolah-sekolah, masyarakat umum dan kelompok masyarakat lainnya.
Jika pada skrining didapatkan individu dengan masalah kesehatan jiwa maka dapat berkonsultasi kepada guru di sekolah, bagian kepegawaian di kantor atau kader kesehatan. Namun apabila butuh penanganan lebih lanjut dapat dirujuk ke fasilitas kesehatan terdekat.
“Diharapkan dengan program ini dapat menurunkan masalah-masalah kesehatan jiwa, salah satunya depresi di masyarakat,” jelas Iva.
Psikolog Faza Maulida menilai ada berbagai faktor yang menyebabkan gangguan jiwa. Namun jika melihat kondisi di Kota Jogja faktor, penyebab paling mungkin adalah faktor sulitnya mendapat pekerjaan dan upah yang rendah.
Menurut akademisi UAD ini, lapangan kerja yang sangat sedikit di Kota Jogja bisa berpengaruh terhadap kondisi mental seseorang. Apalagi jika ditambah dengan justifikasi dari masyarakat luas tentang stigma buruk status pengangguran.
Upah yang rendah juga sangat berpengaruh terhadap kondisi mental karena keadaan ekonomi seseorang. Lantaran seseorang yang merasa terus bekerja tapi kebutuhan sehari-hari tidak bisa terpenuhi rawan terkena tekanan psikologis.
“Kalau di Jogja sendiri kemungkinan itu berhubungan dengan lingkungan sosial, dari sosial merembet ke ekonomi,” terang Faza belum lama ini. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin