JOGJA - Hawa panas kerap terjadi di Yogyakarta dalam beberapa hari terakhir ini. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memastikan bahwa penyebabnya bukan karena erupsi Gunung Merapi. Namun fenomena atmosfer.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Reni Kraningtyas mengatakan, fenomena suhu udara yang terasa sangat panas dalam dua hari terakhir disebabkan oleh beberapa faktor.
Pertama karena posisi semu matahari yang berdekatan dengan wilayah Indonesia meskipun saat ini sudah mengarah ke utara.
Menurutnya, fenomena tersebut membuat intensitas penyinaran matahari menjadi lebih maksimal.
Apalagi dengan kondisi cuaca yang relatif cerah dengan tutupan awan yang minim. Sehingga menyebabkan radiasi matahari langsung mencapai permukaan tanpa banyak hambatan.
Baca Juga: Prediksi Skor Chelsea vs Leeds United FA Cup Minggu 26 April 2026, Manchester City Menanti di Final
Di sisi lain, mulai berkurangnya curah hujan serta masuknya periode peralihan menuju musim kemarau juga turut memperkuat peningkatan suhu udara.
Pada musim penghujan, awan cenderung lebih banyak. Sehingga menghalangi paparan sinar matahari secara langsung.
“Udara terasa lebih terik terutama pada siang hari,” ujar Reni saat dikonfirmasi lewat sambungan telepon, Minggu (26/4/2026).
Berdasarkan pemantauan BMKG Yogyakarta, kondisi suhu udara di DIY memang cukup tinggi.
Pada periode tanggal 23 hingga 25 April 2026 rata-rata suhu mencapai 33 derajat celcius. Suhu tertinggi tercatat pada hari Jumat (24/4/2026) dengan catatan suhu 34,4 derajat celcius. Sementara sebelumnya tercatat pada kisaran 30-32 derajat celcius.
Reni memastikan, kondisi cuaca di DIY murni disebabkan karena kondisi atmosfer. Dia menampik anggapan masyarakat yang menyebut bahwa suhu panas biasanya berkaitan dengan aktivitas Gunung Merapi.
“Bukan (jika suhu panas disebabkan aktivitas Gunung Merapi), karena erupsi sudah beberapa lama terjadi hingga saat ini,” katanya.
Sementara itu, Kepala Seksi Pencegahan Pengendalian Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan Jiwa Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja Iva Kusdyarini meminta agar masyarakat mewaspadai bahaya dehidrasi Lantaran suhu udara panas dapat membuat cairan tubuh berkurang signifikan.
Baca Juga: Penutupan TKP Senopati Mulai Berdampak, Kunjungan Taman Pintar Merosot 26 Ribu Wisatawan
Meskipun demikian, Iva memastikan bahwa untuk Kota Jogja belum ada ancaman panas berlebih pemicu heat stroke. Sebab rata-rata suhu udara di Yogyakarta saat musim kemarau masih dibawah 40 derajat celcius.
Adapun heat stroke merupakan gangguan kesehatan yang terjadi pada manusia jika menerima paparan panas berlebih. Gejalanya meliputi pusing, kulit kering, pingsan hingga kejang karena tubuh gagal melakukan pendinginan tubuh.
“Untuk heat stroke saat ini belum perlu diwaspadai karena tidak sedang mengalami cuaca panas yang ekstrim,” beber Iva. (inu)
Editor : Bahana.