Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pasca Harga Gas Non-subsidi Naik, Beberapa Masyarakat DIY Berencana Pindah ke Gas Melon

Agung Dwi Prakoso • Senin, 20 April 2026 | 18:27 WIB
Ilustrasi gas melon. (Radar Jogja File)
Ilustrasi gas melon. (Radar Jogja File)

JOGJA- Sejumlah masyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mulai mengeluhkan adanya kenaikan harga Liquefied Petroleum Gas (LPG) non-subsidi tabung 5,5 kg dan 12 kg. Mereka merasa keberatan dengan harga tersebut, terlebih di tengah banyaknya komoditas yang juga naik harga.

Salah satu pengguna Gas LPG 5,5 kilogram asal Sleman Wardani merasa keberatan dengan kenaikan harga tersebut. Biasanya, ia membeli gas tersebut seharga Rp 100 ribu sebelum ada kenaikan. Namun, saat ini harganya naik menjadi Rp 115 ribu.

"Kenaikannya lumayan, padahal terkadang dalam satu bulan tidak cukup kalau hanya satu tabung," ujarnya saat dikonfirmasi, Senin (20/4/2026).

Ia merasa keberatan dengan kenaikan harga tersebut. Sebab, kategori perekonomiannya belum termasuk menengah atas. Pendapatan bulannya juga masih sekitar Upah Minimum Regional (UMR) DIY yang tidak lebih dari Rp 4 juta setiap bulannya. 

Baca Juga: Hati-Hati! Salah Pasang Alat Ukur Tekanan Darah Dapat Membahayakan Nyawa

"Kalau gini terus mendingn saya ganti ke LPG Subsidi karena lebih murah," bebernya.

Namun, ia juga khawatir apabila beralih ke Gas subsidi 3 kilogram nantinya akan menjadi langka. Kekhawatiran itu muncul berdasarkan pengalaman dimana beberapa kali gas melon itu sulit dicari di DIY. 

"Kenaikan ini sangat terasa, terlebih banyak harga kebutuhan pokok saat ini juga naik," tegasnya.

Warga Asal Kota Jogja, Ramadan juga mengatakan hal yang serupa. Ada keinginan untuk beralih menggunakan gas subsidi, terlebih jika kondisi peerekonomiannya tidak stabil. Ia berharap pemerintah mempunyai solusi atas situasi negara yang saat ini terjadi. Mulai plastik hingga BBM maupun Gas non subsidi semuanya naik harga.

"Kenaikan ini bisa menyebabkan efek domino karena bahan baku lainnya juga akan ikut naik, otomatis itu," ujarnya. 

Baca Juga: Mengenal Abdi Dalem Lebih Dekat, Antara Pengabdian dan Modernitas

Ketua Himpunan Wiraswasta Minyak dan Gas (Hiswana Migas) DIY Ariyanto Sukoco mengakui dampak kenaikan LPG nonsubsidi mulai dirasakan terutama dari sisi sensitivitas konsumen terhadap harga. Kenaikannya dinilai signifikan hampir 19%. Hal itu mendorong sebagian konsumen melakukan penyesuaian konsumsi.

"Secara tren, ada indikasi awal sebagian konsumen mempertimbangkan alternatif yang lebih ekonomis," ujarnya.

LPG 12 kg dan 5,5 kg, lanjutnya, diperuntukkan bagi segmen masyarakat mampu, sehingga tidak seluruhnya berpindah. Pola konsumsi saat ini cenderung lebih selektif dan tersegmentasi, mirip dengan yang terjadi pada BBM nonsubsidi. Selain itu, ia melihat kondisi pasokan LPG, relatif aman dan terkendali.

"Pemerintah dan Pertamina juga memastikan stok berada di atas batas minimum nasional, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir terhadap kelangkaan," paparnya. (oso) 

Editor : Iwa Ikhwanudin
#gas subsidi 3 kg #gas non subsidi #harga gas naik #gas subsidi #gas melon