JOGJA - Kasus meningitis masih menjadi ancaman serius bagi jemaah haji asal DIY, terutama karena sekitar 70 persen calon jemaah tahun ini masuk kategori berisiko tinggi.
Kondisi ini membuat Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY melaukan upaya pencegahan.
Termasuk vaksinasi dan pemantauan kesehatan, sejak sebelum keberangkatan hingga kepulangan.
Kepala Dinkes DIY Gregorius Anung Trihadi mengatakan, para calon jemaah haji (CJH) asal DIY yang akan berangkat tahun ini telah menjalani proses istithaah, yakni penilaian kemampuan fisik, mental, dan ekonomi untuk melaksanakan ibadah haji.
Pemeriksaan ini berlangsung cukup panjang, dengan tahap akhir berupa skrining oleh Badan Karantina Kementerian Kesehatan guna menentukan kelayakan terbang masing-masing jemaah.
"Apabila kemudian ada masalah atau sakit yang bisa dikendalikan, itu diobati baru diperiksa berikutnya," katanya.
Baca Juga: Persiapan SPMB Tahun Ini, SD Panggang Ikuti Juknis Dinas Pendidikan tanpa Seleksi: Ini Alasannya!
Ia mencontohkan, beberapa penyakit yang dapat menyebabkan jemaah tidak lolos proses istithaah antara lain gagal ginjal dan gangguan jiwa berat.
Terkait data tahun ini, ia mengaku belum memiliki angka pasti. Meski demikian, terdapat sejumlah jemaah dengan kondisi kesehatan tertentu yang masih dapat dikendalikan sehingga tetap berpeluang berangkat.
"Jumlahnya enggak banyak. Kalau kemudian satu kloter mungkin satu, dua itu kan juga nggak banyak ya," ujarnya.
Baca Juga: Pilih Hari Jumat, Pemkab Sleman Akan Berlakukan WFH Mulai Mei: Hanya untuk Pegawai Nonstruktural
Maka, imbauan yang diberikan untuk para jemaah yang akan berangkat mulai 21 April besok adalah menjaga kesehatan dan membawa obat-obatan yang dibutuhkan.
Selain itu, jemaah juga diminta aktif melaporkan kondisi kesehatannya kepada dokter yang bertugas di setiap kloternya.
Potensi penyakit yang umumnya ditemukan, lanjutnya, salah satunya meningitis. Potensi penyakit lain adalah polio.
Baca Juga: Terapkan Minus Growth, BKPP Sleman Ajukan 440 Formasi CPNS
Vaksinasi dua penyakit tersebut wajib diberikan kepada para jemaah yang hendak berangkat.
Tambah satu lagi yakni vaksin Covid-19 lengkap yang juga menjadi syarat, walaupun tren penyakitnya saat ini menurun.
"Pemerintah Arab Saudi itu mengharapkan tiga itu vaksinasi," tegasnya.
Terpisah, Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Haji dan Umrah DIY Jauhar Mustofa menyampaikan, jumlah jemaah dari DIY yang akan berangkat haji tahun ini lebih dari 3.000 jemaah.
Mereka terbagi menjadi 11 kloter dan diberangkatkan dua gelombang mulai 21 April.
Dari seluruh jemaah, dikatakan tidak ada yang sakit hingga membatalkan keberangkatan.
"Selama ini belum ada, cuman ada satu jemaah yang kemarin membatalkan, ini mutasi dari Jawa Barat mutasi ke Jogja, kemudian alasan tertentu menunda keberangkatan," ujarnya.
Baca Juga: Jateng Bakal Dibangun Peternakan Sapi Perah Terbesar, Kapasitasnya Capai 30 Ribu Ekor
Meskipun tidak ada jemaah yang sakit hingga membatalkan keberangkatan, terdapat satu kasus pergantian jemaah akibat yang bersangkutan meninggal dunia sebelum jadwal keberangkatan.
Sehingga posisinya digantikan oleh antrean berikutnya.
"Meninggal memang ada satu di Sleman, satu di Bantul kalau enggak salah. Itu kemudian langsung di (ganti) cadangan yang lunas sudah dinaikkan," jelasnya.
Berdasarkan data, 70 persen CJH yang berangkat tahun ini termasuk kategori berisiko tinggi (risti) baik ringan, sedang maupun berat.
Baca Juga: Sinergi Kodim 0709/Kebumen dan Radar Jogja Sabet Empat Penghargaan Nasional di Ajang TMMD
Di antaranya lansia, punya darah tinggi, asam urat, diabetes dan sebagainya. Pendampingan ekstra akan dilakukan sebagai langkah mitigasi.
Tahun ini, bahkan pemerintah juga memberikan keringanan dalam pelaksanaan Armuzna ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) tiga lokasi utama yang menjadi tempat pelaksanaan puncak ibadah haji.
Skema yang diterapkan yakni murur atau pergerakan jemaah haji dari Arafah langsung menuju Mina dengan melintasi Muzdalifah menggunakan kendaraan tanpa turun atau bermalam (mabit).
"Bagi jemaah risti, disabilitas, jemaah dengan gangguan kesehatan, lansia berserta pendampingnya dan jemaah obesitas," tambah dia.
Skema murur diberikan agar jemaah tidak berdesak-desakan dan membahayakan bagi jemaah risti.
Ada program baru lagi bernama Tanazul atau skema penyesuaian jadwal kepulangan atau pemindahan lokasi penginapan jemaah untuk alasan darurat.
"Tanazul melonggarkan space yang ada di Mina. Jadi jemaah-jemaah haji yang berada di zona lima ini tidak mabit di Mina. Tetapi akan didorong langsung dipulangkan ke hotel," imbuhnya.
Prosesi melempar jumroh dilakukan dari hotel yang ada di wilayah terdekat Mina. Hanya berjarak sekitar 1-2 kilometer dari lokasi lempar jumroh. (oso/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita