JOGJA - Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat akan menggelar Garebeg Sawal Dal 1959/2026 untuk memperingati Idul Fitri 1447 Hijriah.
Revitalisasi ageman atau busana Kanca Aji untuk abdi dalem juga akan mulai diuji coba dalam gelaran upacara Garebeg Sawal tersebut.
Penanggung jawab revitalisasi busana Prajurit dan Abdi Dalem Keraton Jogjakarta Nyi RP. Lukitaningrumsumekto mengatakan ada yang berbeda dari sisi busana yang akan dikenakan para abdi dalem Keraton Jogja dalam Garebeg Sawal tahun ini.
Jika busana yang dipakai sehari-hari menggunakan atela warna putih,kali ini busana kebesarannya akan berbeda.
"Pangkat Wedana menggunakan sikepan berwarna hitam, sedangkan untuk pangkat Bekel dan Wedana menggunakan jubah berwarna kehijauan," ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima, Minggu (15/3/2026).
Prosesi pelaksanaan Garebeg Sawal akan diselenggarakan Jumat (20/3/2026) di Pagelaran Keraton-Masjid Gedhe-Kepatihan-Pura Pakualaman-Ndalem Mangkubumen.
Iring-iringan bregada prajurit akan dimulai dari Siti Hinggil, Pagelaran Keraton Jogja. Terdapat 14 Bregada Prajurit Keraton yang akan hadir di Garebeg Sawal Dal 1959.
Diawali dari Prajurit Jager, para penjaga istana yang mengawali iring-iringan dari dalam Kedhaton menuju Masjid Gedhe.
Disusul Prajurit Suranata yang mengawal Abdi Dalem Pengulon dan Kanca Kaji menuju Masjid Gedhe untuk menyambut gunungan/pareden.
“Komitmen kami memang setiap prosesi Garebeg selalu menghadirkan hal yang baru, baik itu berupa inovasi maupun yang sifatnya revitalisasi. Hal ini sejalan dengan semangat pelestarian kebudayaan di Keraton Yogyakarta,” ujarnya.
Bregada Surakarsa akan mengawal pareden menuju Ndalem Mangkubumen.
Sedangkan Bregada Bugis akan mengawal gunungan hingga Kepatihan.
Gunungan untuk Pura Pakualaman sendiri akan dikawal oleh Prajurit Pura Pakualaman yakni Dragunder dan Plangkir.
Terdapat lima jenis gunungan yang dibagikan pada prosesi pelaksanaan Garebeg Sawal, Senin (31/3/2026).
Kelima jenis itu adalah Gunungan Kakung,Gunungan Estri/Wadon, Gunungan Gepak, Gunungan Dharat, dan Gunungan Pawuhan.
Gunungan tersebut akan dikeluarkan secara berurutan dari Keraton sesuai dengan urutannya.
Dua Gunungan Kakung, peruntukannya masing-masing untuk Masjid Gedhe dan Pura Pakualaman.
Sedangkan untuk Kepatihan dan Ndalem Mangkubumen akan diberikan bagian dari gunungan berupa pareden wajik.
Selain itu, terdapat satu buah Gunungan yakni Pawuhan, yang selanjutnya dibagikan kepada Abdi Dalem Pengulon.
“Gunungan merupakan perwujudan kemakmuran Keraton atau pemberian dari raja kepada rakyatnya. Jadi makna Garebeg Sawal secara singkatnya adalah perwujudan rasa syukur (mangayubagya)," jelasnya. (oso)