JOGJA - Gejolak perang Amerika Serikat-Israel dengan Iran membawa kekhawatiran baru bagi sektor perekonomian di Kota Jogja.
Salah satunya kunjungan wisatawan mancanegara (wisman). Pemkot pun mulai menyiapkan langkah strategis menghadapi potensi permasalahan yang akan muncul.
Wakil Wali Kota Jogja Wawan Harmawan mengatakan, sudah mendapatkan informasi dari pelaku usaha wisata tentang rencana penjadwalan ulang kunjungan wisman.
Kondisi tersebut akan membawa dampak bagi usaha perhotelan maupun jasa wisata lainnya.
“Tentu semua itu akan memberi dampak kepada semuanya, harga-harga juga kami dengar semuanya akan tinggi, misalnya seperti minyak,” ujar Wawan di Balai Kota Jogja, Senin (9/3/2026).
Di samping dampak dari sektor pariwisata, kepala daerah berlatar belakang pengusaha itu juga memprediksi dampak perang juga berpengaruh terhadap pasar pelaku usaha.
Terkhusus yang selama ini mengirimkan komoditasnya ke negara Eropa dan Timur Tengah.
Menghadapi hal tersebut, Wawan sudah menyiapkan strategi dengan membidik pasar dari negara nonkonflik.
Misalnya memperkuat promosi wisata dan komoditas di negara-negara Asia dan Australia yang memiliki penerbangan langsung ke Jogjakarta.
“Jadi yang selama ini sudah ditata misalnya ke Amerika, kami coba jajaki untuk bisa ke negara lain. Pengusaha harus bisa luwes,” bebernya.
Baca Juga: Reguler Tampil sebagai Kapten, Bek Asing Franco Ramos Mingo Ungkap Kebanggaan Pimpin Tim PSIM Jogja
Selain menciptakan alternatif pasar, Wawan mengaku juga akan memperkuat daya saing di tingkat lokal.
Misalnya dengan melakukan berbagai pelatihan kepada pelaku-pelaku usaha mikro agar semakin mempertegas posisinya pada penjualan secara digital.
Sebab, penjualan secara online melalui marketplace memiliki peluang cukup besar. Bahkan diyakini dapat menjadi salah satu solusi jika memang gejolak geopolitik global nantinya akan berkepanjangan.
“Istilahnya harus punya second plan, jadi ada alternatif market lain,” ungkap Wawan.
Sebelumnya, dampak perang antara AS-Israel dengan Iran sangat dirasakan oleh perajin perak Kotagede.
Umi Nurhasanah, pemilik usaha kerajinan perak mengaku mengalami penurunan signifikan terhadap ekspor komoditas kerajinan perak.
Pemilik usaha Umi Silver ini menyebut, sebelumnya bisa mengekspor kerajinan perak dalam skala kiloan.
Namun kini hanya mampu dalam skala bijian. “Penurunannya luar biasa dan orderan (dari luar negeri) hampir tidak ada yang masuk,” ungkapnya. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita