Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Relawan Lintas Agama Mandikan Ratusan Rupang di Kelenteng Fuk Ling Miau Gondomanan dengan Air Bunga Mawar dan Kayu Cendana

Agung Dwi Prakoso • Jumat, 13 Februari 2026 | 03:30 WIB
Menyucikan Ratusan Rupang dan 23 Altar, Intip Persiapan Imlek di Kelenteng Fuk Ling Miau Jogja
Menyucikan Ratusan Rupang dan 23 Altar, Intip Persiapan Imlek di Kelenteng Fuk Ling Miau Jogja

 

Wajah toleransi antarumat beragama tergambar di Kelenteng Fuk Ling Miau. Saat umat lintas agama bersama-sama gotong royong membersihkan kelenteng menjelang Imlek.

Tak sekadar membersihkan, mereka juga memastikan prosesi dilakukan dengan benar. Mulai dari menggunakan air dari kayu cendana dan bunga mawar.

Kelenteng Fuk Ling Miau yang berlokasi di Jalan Brigjen Katamso No.3, Gondomanan, Kota Jogja tampak sibuk dengan berbagai kegiatan untuk mempersiapkan Imlek tahun ini.

Setelah menjalani tradisi Sang Sin, pengurus kelenteng dan masyarakat lintas agama bersama-sama melakukan kerja bakti membersihkan kompleks kelenteng.

Agenda bersih-bersih kelenteng, Kamis (12/2) diikuti oleh puluhan orang, baik jemaah, masyarakat sekitar atau komunitas. Di antaranya Tim Sat Set Indonesia dan Forum Relawan Demokrasi (Foreder) yang sejak pagi hingga sore membantu pembersihan.

Keterlibatan berbagai macam orang dengan latar belakang perbedaan suku, ras, dan agama itu menjadi pemandangan yang indah. Membuktikan bahwa toleransi di Jogja sangat tinggi.

"Mudah-mudahan mereka juga dapat berkah, kita bersama ini kan satu NKRI," ujar Ketua Yayasan Fuk Ling Miau, Ang Ping Siang saat ditemui di Kelenteng Fuk Ling Miau, Kamis (12/2).

Total ada ratusan rupang yang dibersihkan. Selain rupang, pembersihan juga dilakukan di beberapa altar yang terdapat di kelenteng tersebut. "Kalau altarnya itu ada 23, rupang ada ratusan," bebernya.

Menurutnya, altar terbesar adalah Dewa Bumi. Dewa tersebut merupakan tuan rumah dari Kelenteng Fuk Ling Miau. Posisi altarnya paling besar dan terletak di tengah kelenteng.

"Lainnya ada Dewa Perang Kwan Kong, Dewa Obat Wu Tao dan sebagainya," ucap laki-laki keturunan Tionghoa dengan nama Jawa Angling Wijaya itu.

Pembersihan altar dan rupang dilakukan dengan racikan khusus. Mereka dimandikan atau dibersihkan dengan air yang dicampur dengan bunga mawar serta kayu cendana. "Itu untuk wangi-wangian," imbuhnya.

Beberapa hari sebelumnya, di kelenteng tersebut juga menggelar ritual sembahyang Sang Sin. Ritual tersebut merupakan bentuk pengucapan selamat jalan kepada dewa-dewi yang pergi menuju surga.

Khususnya Dewa Dapur dan Dewa Bumi untuk melaporkan perbuatan manusia selama satu tahun terakhir di dunia.

"Prosesi ibadah dilakukan masing-masing kami mengucapkan selamat jalan kepada para dewa," jelasnya.

Setelah dewa dewi naik ke surga, rupang di kelenteng dipercaya dalam keadaan kosong. Momen itulah yang dimanfaatkan jemaah untuk membersihkannya, sebelum para dewa kembali ke bumi dan menempatinya.

Koordinator Tim Sat Set Swastika Tri Purwanto menambahkan tujuan mereka mengikuti acara bersih-bersih kelenteng untuk mengampanyekan toleransi antarumat beragama.

Kebersihan lingkungan juga menjadikan perayaan Imlek di kelenteng tersebut lebih nyaman. "Komunitas kami memang fokusnya pada isu lingkungan, terus ini karena menyambut Imlek nanti kami bersihkan juga tempat-tempat ibadah," ujarnya. (pra)

 

 

Editor : Heru Pratomo
#Gondomanan #Imlek #bunga mawar #Kelenteng Fuk Ling Miauw Jogja #Toleransi Antarumat Beragama #pohon cendana