Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Perekonomian Tak Menentu, Masyarakat Pilih Investasi Emas untuk Amankan Aset; Sejarah Buktikan Paling Stabil, Mudah Diuangkan

Herpri Kartun • Minggu, 8 Februari 2026 | 20:31 WIB

 

Sandra Nusantara, pemilik toko emas Orchid Gold, menunjukkan emas batangan Antam berbagai ukuran di Triharjo, Sleman, kemarin (8/2).
Sandra Nusantara, pemilik toko emas Orchid Gold, menunjukkan emas batangan Antam berbagai ukuran di Triharjo, Sleman, kemarin (8/2).

JOGJA - Dalam dua tahun terakhir emas menjadi barang investasi yang diburu banyak orang. Penjualannya pun meningkat drastis. Seperti yang dialami di Galeri 24 milik PT Pegadaian.


Kepala Departemen Non Gadai PT Pegadaian Area Jogjakarta Prayitno SE mengatakan, komoditas emas menjadi salah satu pilihan investasi yang diminati masyarakat sehak dulu. Para orang tua banyak mengamankan kekayaannya pada emas. "Investasi yang memang tidak tergerus oleh inflasi," ujarnya kepada Radar Jogja kamis (5/2).


Ia mengibaratkan emas itu seperti styrofoam di atas air. Apabila air itu surut, maka emas akan tetap berada di atasnya. Jika pun air itu naik, otomatis emas tetap berada di atas dan ikut naik. Sejarah membukttikan, emas merupakan piranti investasi yang relatif stabil. "Mudah diuangkan dan tidak butuh lama," paparnya.


Harga emas dalam dua tahun terakhir sejak 2024 tercatat mengalami kenaikan signifikan. Kenaikan itu mempengaruhi jumlah pembeli emas di pegadaian. Baik secara fisik melalui Galeri 24 maupun melalui digitial dengan aplikasi Tring. "Harga emas sangat dipengaruhi oleh geopolitik global," bebernya.


Misal terjadi perang dagang maupun fisik di beberapa negara di dunia juga turut mempengaruhi harga emas. Selain itu, beberapa pihak juga 'menggoreng' harga emas, sehingga peningkatan harga belakangan ini cukup ekstrem. "Di Pegadaian, kenaikan emas dalam satu tahun bisa belasan kali lipat," tambahnya.


Data pada Desember 2024, PT Pegadaian mencatat penjualan sebanyak 534 kilogram. Itu merupakan akumulasi dari beberapa tahun sebelumnya. Kemudian data terbaru, Desember 2025 sudah meningkat menjadi 1,1 ton. "Hanya dalam satu tahun kenaikannya lebih dari 600 kilogram emas yang terjual," jelasnya.


Berdasarkan pengalaman pribadinya, pembeli emas fisik di Gerai Galeri 24 Pegadaian juga mengalami peningkatan. Ia tinggal di rumah dinas PT Pegadaian yang kebetulan letaknya berdekatan dengan Gerai Galeri 24 cabang Lempuyangan, Jogja.


"Itu saya lihat pukul 01.00 pagi sudah mengantre, padahal gerai bukanya jam 07.00. Mereka rela membawa tikar unntuk menunggu," ucapnya.


Mayoritas pembeli berusia di bawah 40 tahun. Kebanyakan yang ia lihat adalah ibu-ibu muda yang umurnya masuk generasi milenial. Sedangkan pembeli emas secara digital merupakan generasi milenial dan Gen Z.


Pihaknya menjamin, melakukan pembelian emas digital melalui PT Pegadaian itu aman. Sebab, pegadaian merupakan perusahaan 'pelat merah' atau statusnya Badan Usaha Milik Negara (BUMN). "Ketersediaan emas kami selalu ada di kantor pusat, kami kerja sama dengan Antam," tegasnya.

Baca Juga: Wakil Bupati Bantul Aris Suharyanta Bicara Pengembangan Atlet Taekwondo Menuju PON 2028, Ajak Semua Elemen Bersatu demi Raih Dua Emas


Menurutnya, menabung emas digital melalui Tring lebih mudah. Masyarakat bisa menabung dengan nominal berapa pun. Saat sudah mencapai 1 gram, saldo bisa langsung dicairkan atau diubah menjadi emas fisik. Bahkan bisa langsung dijual atau digadaikan melalui aplikasi itu. (oso/laz)

Editor : Herpri Kartun
#radar jogja