JOGJA - Kondisi sampah di Pasar Induk Giwangan kini memprihatinkan.
Pasalnya, selama lebih dari satu bulan sampah pada salah satu pasar tradisional di Kota Jogja itu dilakukan pengangkutan oleh Dinas Perdagangan.
Pantauan Radar Jogja, sampah menggunung di depan los buah-buahan pasar.
Jenis sampah didominasi buah dan sayuran busuk, serta dibiarkan terbuka di dekat bangunan pasar.
Selain itu, ada sebagian sampah ada yang dibungkus menggunakan karung.
Namun hanya menumpuk di depan taman dan depo.
Salah satu pedagang sayuran Salamah mengatakan, penumpukan sampah terjadi karena selama lebih dari satu bulan depo Pasar Induk Giwangan tidak dibersihkan.
Alhasil, pedagang tidak bisa membuang dan sampah hanya dibiarkan di lingkungan sekitar pasar.
Salamah mengaku, kondisi tersebut cukup mengganggu aktivitas pedagang maupun pembeli.
Lantaran bau tidak sedap timbul dari tumpukan sampah.
“Sebenarnya kami maupun pembeli sangat terganggu. Tapi mau bagaimana lagi, karena sampah juga tidak diangkut-diangkut,” ujar Salamah saat ditemui, Senin (26/1/2026).
Pedagang lain, Mini juga mengeluhkan timbulnya lalat dan tikus akibat penumpukan sampah.
Dia ingin agar masalah tersebut bisa segera diatasi oleh pemerintah.
Menurutnya, pedagang sebenarnya sudah melakukan langkah pengolahan sampah.
Namun karena limbah buah dan sayuran yang timbul cukup besar, upaya pengolahan tidak berjalan dengan baik.
“Sudah pernah dicoba (pengolahan), mungkin karena banyaknya itu jadi tidak optimal. Soalnya di sini kan banyak banget, (limbah) jeruk saja bisa berton-ton,” ungkap pedagang buah-buahan ini.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Perdagangan Kota Jogja Veronica Ambar Ismuwardani mengakui sistem pengolahan sampah di pasar-pasar tradisional sedang mengalami kendala.
Lantaran sejak awal Januari lalu pembuangan sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan ditutup.
Ambar menyampaikan, bahwa pihaknya sudah meminta agar pedagang bisa membantu pengolahan sampah.
Sebab kondisi limbah buah-buahan sudah menumpuk cukup lama.
“Kami himbau pedagang untuk mengelola mandiri,” jelas Ambar. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin