Kelurahan Terban, Kota Jogja dulu menghadapi masalah sampah cukup pelik. Kelurahan yang terletak di Kemantren Gondokusuman itu pernah menghasilkan 12 ton sampah per hari. Namun kini mampu direduksi hingga menjadi dua ton. Lantas bagaimana caranya ?
Upaya pemilahan sampah di Terban semuanya menerapkan konsep Masyarakat Jogja Olah Sampah (Mas JOS). Sampah organik sisa makanan rumah tangga dikumpulkan dalam ember. Kemudian sampah organik kering dijadikan pupuk bagi kelompok wanita tani.
Sementara untuk sampah anorganik yang memiliki nilai jual dikelola bank sampah. Hanya sampah residu yang dibuang. Itupun dengan kerjasama dengan pihak ketiga bukan langsung dibuang melalui armada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jogja.
Lurah Terban Sigit Kusuma Atmaja mengatakan, ketegasan dan konsistensi merupakan kunci pengurangan sampah di wilayahnya. Warga diwajibkan memilah sampah. Kemudian penggrobak juga harus membawa sampah dalam keadaan sudah terpisah sebelum masuk armada truk.
Jika dua hal itu tidak dilakukan, kelurahan sudah menyiapkan sanksi adat. Berupa pengembalian sampah kepada pembuang atau penggrobak. Cara tersebut diklaim cukup efektif lantaran mampu mereduksi puluhan ton per hari.
“Kuncinya itu bagaimana kami bisa konsisten untuk terus sosialisasi pada masyarakat dan punya suatu ketegasan,” ujar Sigit saat ditemui di kantornya, Senin (19/1).
Mantan Lurah Semaki itu menyatakan, lewat ketegasan dan konsistensi pemilahan sampah, Sigit mengklaim kini 11.000 jiwa warganya mulai tertib memilah sampah. Bahkan ada tiga RW di Terban yang sudah mandiri sampah. Yakni RW 02, RW 06, dan RW 12.
Sigit pun mengenang bagaimana kelurahan berjuang untuk menyadarkan masyarakat untuk menjalankan Mas Jos. Misalnya lewat program emberisasi.
Medio September 2025 Kelurahan Terban hanya mampu mengumpulkan tiga ember berisi sisa makanan rumah tangga. Namun sekarang Kelurahan Terban sudah bisa mengumpulkan 30 ember.
Selain lewat konsistensi kesadaran warga, Sigit menegaskan bahwa ketegasan lurah sebagai pemangku wilayah juga penting. Dia mengaku selalu hadir di tempat penggrobak membawa sampah dari rumah-rumah sebelum diangkut armada truk.
Ketika penggrobak sudah berkumpul, satu per satu sampah yang diangkut penggrobak dia cek. Jika terbukti tidak terpilah maka dikembalikan lagi ke penggrobak.
Sementara jika penggrobak berdalih yang tidak memilah warga, maka penggrobak wajib mengedukasi. “Istilahnya ada ketegasan berjenjang,” beber Sigit.
Keberhasilan Terban dalam mengelola sampah juga diamini salah satu RW yang telah mandiri sampah. Ketua RW.06 Terban Ardian Setyono Yunipraptowo menyebut masa darurat sampah merupakan titik balik kesadaran warga memilah sampah.
Pada masa itu warga benar-benar kelimpungan membuang sampah. Sehingga sampah harus diolah dari rumah. Kini, sampah organik sudah diolah menjadi pupuk. Sementara sampah anorganik dikelola bank sampah.
“Mau tidak mau kami harus mandiri biar masalah sampah di wilayah bisa selesai,” tegas Ardian. (pra)
Editor : Heru Pratomo