JOGJA - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja menarget tujuh sekolah dasar (SD) dibentuk sebagai Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) pada tahun ini.
Upaya tersebut untuk mewujudkan sekolah lebih aman dari bencana. Kegiatan simulasi dilakukan untuk mewujudkan kesiapan sekolah dalam mitigasi bencana, salah satunya gempa bumi.
Kepala Bidang Pencegahan Kesiapsiagaan dan Data Informasi Komunikasi Kebencanaan BPBD Kota Jogja Iswari Mahendrarko mengatakan, sekolah sasaran SPAB berada di kawasan rawan bencana.
Meliputi SD Negeri Gedongkuning, SD Negeri Gedongtengen, SD Negeri Jetisharjo, SD Negeri Bumijo, SD Negeri Sindurejan, SD Negeri Balirejo, dan SD Negeri Tahunan.
Sebagai salah satu sasaran SPAB, SD Negeri Gedongkuning melaksanakan simulasi bencana Jumat (9/1/2026).
Kegiatan diawali dengan pembunyian sirine sebagai tanda telah terjadi bencana gempa bumi.
Baca Juga: SMK Muhammadiyah 2 Sleman Ikut Pamerkan Rintisan Kendaraan Listrik di Muhammadiyah Sleman Expo
Para siswa dan guru kemudian berlindung di bawah meja. Sebagian siswa mengalami luka-luka.
Namun para guru dan kepala sekolah sigap melakukan evakuasi. Sehingga dampak kebencanaan pun berhasil diminimalisasi.
“Pelatihan ini melibatkan anak-anak didik sekolah, sehingga diharapkan ketika ada bencana sudah tahu siapa yang melakukan apa,” ujar Iswari di sela simulasi.
Baca Juga: Wisata Kulon Progo Diharapkan Tak Hanya Bertumpu Pada Libur Nasional, Bupati Sebut Tantangan Besar
Selain simulasi, dalam program tersebut BPBD Kota Jogja juga memberikan materi tentang mewujudkan sekolah aman bencana.
Baik itu persiapan sarana dan prasarana hingga edukasi kepada warga sekolah.
Iswari menjelaskan, dari aspek sarana dan prasarana, SPAB harus memiliki petunjuk menuju jalur evakuasi atau titik kumpul.
Lalu juga manajemen kesiapsiagaan warga sekolah apabila terjadi bencana. Sampai saat ini total sudah ada 21 SD yang masuk sebagai SPAB. “Sekolah harus membentuk seperti tim siaga,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala SD Negeri Gedongkuning Wiwin Prihandiningsih menyatakan, sekolah yang dipimpinnya memiliki risiko bencana gempa bumi dan kebakaran.
Hal itu tidak lepas dari letak sekolah yang berada di kawasan padat penduduk.
Wiwin menilai, kesiapsiagaan di SD Negeri Gedongkuning memang harus dibentuk. Lantaran sekolah yang berada di Kemantren Kotagede itu memiliki lebih dari 300 murid dari jenjang kelas satu hingga enam.
“Harapannya kami mempunyai kesiapan jika suatu saat ada bencana, sehingga dapat mengurangi risiko yang akan terjadi,” katanya. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita