RADAR JOGJA - Predikat “Kota Pelajar” bukan sekadar nomenklatur kosong bagi Yogyakarta.
Di balik julukan abadi ini, tersimpan tanya mendasar yang kerap memantik diskursus di kalangan masyarakat, faktor apa yang sesungguhnya mengukuhkan Yogyakarta sebagai kiblat utama dalam peta intelektual dan pendidikan Indonesia?
Secara geografis, Yogyakarta mungkin hanyalah satu titik di peta Pulau Jawa, namun secara historis, ia adalah raksasa peradaban.
Sejak masa lampau, wilayah ini telah mentasbihkan diri sebagai inkubator pemikiran, tempat terjadinya dialektika harmonis antara kemajuan ilmu pengetahuan dan pelestarian nilai-nilai budaya yang tumbuh pesat.
Akumulasi reputasi inilah yang menempatkan Yogyakarta di puncak daftar preferensi pendidikan nasional.
Kota ini menjadi rujukan utama bagi mobilitas pelajar, mengakomodasi aspirasi akademis dari spektrum demografi yang luas, mulai dari lingkup regional hingga lintas provinsi.
Alasan Mengapa Yogyakarta Dijuluki Kota Pelajar
Fondasi utama julukan ini terletak pada keberadaannya sebagai rumah bagi deretan universitas papan atas nasional.
Kehadiran Universitas Gadjah Mada (UGM), institusi legendaris yang lahir di era revolusi 1949, menjadi etalase utama dari keunggulan tersebut.
Kendati demikian, atmosfer intelektual di Yogyakarta dibentuk oleh lebih dari sekadar sejarah satu kampus, mari kita telusuri alasan lain yang memperkokoh identitas Yogyakarta :
Mengutip publikasi ilmiah Sugiyanto yang dimuat dalam jurnal Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), DNA pendidikan kota ini ternyata terbentuk jauh melampaui catatan sejarah modern.
Bahkan sebelum sistem tulisan dikenal di kepulauan ini, masyarakat setempat telah mempraktikkan konsep 'Tunggak Semi', sebuah filosofi pembelajaran purba yang menjadi cikal bakal identitas Yogyakarta sebagai kota ilmu selama satu setengah milenium (1-1500 M).
Dinamika intelektual kala itu berdenyut di balik tembok-tembok sakral padepokan, termasuk di antaranya Padepokan Pacrabakan dan Wihara.
Di sanalah Janabadra, sosok pendeta yang juga bertindak sebagai maha guru, menanamkan nilai-nilai kebijaksanaan kepada para murid dalam sebuah sistem pengajaran yang asketis.
Substansi pembelajaran di masa itu bertumpu pada Cilpacastra, yang diterapkan melalui pendekatan instruksional satu arah.
Peserta didik dituntut untuk memiliki daya ingat dan kepatuhan tinggi guna meniru, menghafal, dan mengimplementasikan titah guru dengan akurasi yang sempurna.
Banyak Lembaga Pendidikan Lahir di Zaman Kolonial
Fase kolonialisme turut menyumbang corak baru dalam stratifikasi pendidikan di kota ini.
Pemerintah Hindia Belanda mengimpor sistem pendidikan formal yang terlembaga, menawarkan diversifikasi materi ajar yang melingkupi aspek pertanian, hukum, serta studi bahasa dan budaya, yang menjadi cikal bakal model pendidikan modern hari ini.
Lanskap pendidikan Yogyakarta diwarnai oleh dualisme sejarah yang kaya.
Di satu sisi, peninggalan Belanda lestari melalui sekolah-sekolah seperti SMA Negeri 3 dan SMP Negeri 5.
Di sisi lain, kota ini menjadi saksi bisu kebangkitan pendidikan nasional lewat lahirnya Muhammadiyah (1912) dan Taman Siswa (1922).
Gerakan terakhir ini, yang dipimpin langsung oleh Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hadjar Dewantara, menjadi fondasi filosofis bagi sistem pengajaran di tanah air hingga kini.
Ada 2 Universitas Tertua
Genealogi pendidikan tinggi modern di Indonesia berakar kuat di kota ini, ditandai dengan berdirinya 2 universitas tertua.
Universitas Islam Indonesia (UII) memancangkan tonggak sejarah pada 1945, diikuti oleh Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 1949.
Kedua institusi ini menjadi bukti otentik dedikasi Yogyakarta dalam mencetak kaum cendekia sejak fajar kemerdekaan.
Eksistensi UGM menjadi katalisator utama yang menempatkan Yogyakarta di peta destinasi studi paling bergengsi.
Keberhasilan ini membuka jalan bagi proliferasi perguruan tinggi berkualitas lainnya.
Seiring waktu, peta pendidikan kota ini semakin lengkap dengan hadirnya Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), UIN Sunan Kalijaga, serta Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, yang bersama-sama memperkokoh benteng akademis di kota gudeg.
Selain itu, terdapat puluhan universitas swasta yang beragam, menambah kekayaan pilihan pendidikan di Yogyakarta.
Fenomena ini menarik pelajar dari seluruh Indonesia untuk datang dan belajar di Yogyakarta, mengukuhkan posisinya sebagai pusat pendidikan terkemuka di Indonesia.
Pada akhirnya, gelar 'Kota Pelajar' bukanlah sekadar label kosong, melainkan manifestasi dari lingkungan intelektual yang denyutnya terasa nyata.
Sinergi antara keragaman institusi dan kultur akademik yang mengakar kuat telah mentransformasi Yogyakarta menjadi inkubator peradaban, menarik ribuan pemuda/i dari berbagai latar belakang untuk merajut mimpi dan intelektualitas di tanah yang sama. (Muhammad Aryo Witjaksono)
Editor : Meitika Candra Lantiva