Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Tidak Banyak Temukan Peninggalan Sejarah di Situs Keraton Kerta, Temuan Ekskavasi Hanya Ungkap Struktur Bangunan Pondasi Keraton

Agung Dwi Prakoso • Kamis, 18 Desember 2025 | 03:26 WIB
Agenda Seminar Hasil Ekskavasi Kawasan Cagar Budaya Kerta-Plered di Yogyakarta, Rabu (17/12/2025).
Agenda Seminar Hasil Ekskavasi Kawasan Cagar Budaya Kerta-Plered di Yogyakarta, Rabu (17/12/2025).

JOGJA - Ekskavasi di Situs Keraton Kerta, Pleret, Bantul, belum sepenuhnya mengungkap jejak bekas ibu kota Kerajaan Mataram Islam era Sultan Agung.

Hingga kini, mayoritas temuan arkeologis masih didominasi struktur pondasi bangunan keraton yang terkubur, menandakan masih banyak misteri sejarah yang tersimpan di bawah permukaan tanah.

Kepala Bidang Pemeliharaan dan Pengembangan Warisan Budaya Disbud DIY Dwi Agung Hermanto mengatakan, pihaknya telah memulai penelitian sejak 2007 silam.

Ekskavasi telah dilakukan lebih dari lima kali di lokasi tersebut.

“Tahun ini ada dua (ekskavasi). Hasil penelitian, rencananya digunakan untuk menguatkan data informasi pada situs tersebut,” katanya ditemui dalam agenda Seminar Hasil Ekskavasi Kawasan Cagar Budaya Kerta-Plered di Yogyakarta, Rabu (17/12/2025).

Meskipun belum sepenuhnya terungkap, namun dapat disimpulkan kebenaran atau fakta sejarah adanya Keraton Kerta pada masa Sultan Agung.

"Dugannya, pada masa itu, Sultan Agung banyak melakukan penyerangan ke Batavia, sehingga tidak banyak ditemukan progres pembangunan di situs Kerta," bebernya.

Di masa kepemimpinannya, keraton kembali dipindahkan dari Kerta menuju Plered yang lokasinya tidak jauh.

Artinya ada dua kali pemindahan ibu kota Mataram Islam setelah di Kotagede.

"Itu terlihat pada temuan struktur benteng yang cakupannya cukup luas pada masa Amangkurat I di Plered dibandingkan Kerta, selain itu juga ditemukan beberapa peninggalan lain," jelasnya.

Dilakukan oleh tujuh orang tenaga ahli dan 15 tenaga lokal yang membantu.

"Secara umum, temuan di Situs Kerta tidak berbeda dengan temuan sebelumnya, yakni berupa struktur pondasi bangunan yang dominan dibuat dengan bahan batu bata merah," ujar Dosen Departemen Arkeologi FIB UGM itu.

Jejak sejarah Keraton Kerta dapat dikatakan seperti ditelan bumi. Sebab, mayoritas temuan didapatkan di bawah permukaan tanah.

Bagian bangunan ataupun peninggalan lainnya di atas sangat jarang ditemukan. Menurutnya, itu merupakan hal yang umum terjadi seperti di lokasi bersejarah lainnya.

"Ada tradisi ketika keraton sudah pindah, itu memang tidak dimanfaatkan kembali istilahnya ditinggalkan," jelasnya.

Selain itu, faktor hilangnya Keraton Kerta juga disebabkan oleh faktor alamiah seperti bencana alam dan usia.

Bangunan keraton diduga rusak karena faktor usia dan terkubur karena faktor bencana.

"Kasusnya sama seperti peninggaln-peninggalan Majapahit, candi dan sebagainya," ucapnya.

Tantangan di lapangan, lanjutnya, penelitian tidak bisa maksimal menjangkau semua lokasi karena beberapa kawasan sudah berupa permukiman warga yang dihuni.

Ia menilai, idealnya apabila situs teresebut dinilai penting memang harus ada pembebasan lahan. Namun, itu membutuhkan biaya dan upaya yang maksimal.

Baca Juga: Lakukan Hubungan Sesama Jenis di Toilet Masjid, Guru ASN di Daerah Padang Ini digerebek Petugas Keamanan

"Padahal di bawah bangunan rumah itu kemungkinan ada situs bersejarah," paparnya.

Menurutnya, Situs Kerta masih memiliki segudang misteri sejarah yang belum terkuak. Namun, upaya untuk menguaknya terbatas pada lahan lokasi penelitian.

Mayoritas lokasi yang diteliti hanya lahan yang sudah dibebaskan oleh pemerintah, namun lahan-lahan yang belum dibebaskan masih belum dilakukan penelitian.

"Apalagi itu udah jadi kawasan permukiman, sementara ini kami meneliti hanya di beberapa lokasi yang sudah dibebaskan dan dinilai penting," tambahnya. (oso/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#Disbud DIY #ekskavasi #peninggalan sejarah #situs #sultan agung #Struktur bangunan