JOGJA - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja memastikan early warning system (EWS) berfungsi dengan baik. Bahkan kemungkinan tidak dilakukan penambahan meskipun menghadapi puncak musim penghujan.
Ketua Tim Kerja Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja Darmanto mengatakan, saat ini pihaknya memiliki 26 EWS. Terdiri dari 17 EWS manual dan sembilan EWS otomatis.
Ia mengungkapkan, 26 EWS itu tersebar pada tiga aliran sungai besar yang melintasi Kota Jogja. Meliputi Sungai Winongo, Sungai Code, dan Sungai Gajahwong. Serta dipastikan berfungsi dengan baik.
“Untuk EWS tidak ada yang rusak,” ujar Darmanto saat dikonfirmasi lewat pesan singkat, Rabu (3/12).
Ia mengaku, 26 EWS yang saat ini sudah terpasang di tiga aliran sungai besar sudah cukup untuk langkah mitigasi bencana banjir. Pun di awal 2025 lalu, BPBD Kota Jogja juga telah memasang sembilan titik EWS otomatis. Tersebar di Kampung Ledok Tukangan, Jagalan Beji dan Sorosutan untuk Sungai Code.
Lalu untuk EWS otomatis di Sungai Winongo terpasang di Kampung Serangan, Gampingan dan Suryowijayan. Sementara EWS otomatis di Sungai Gajah Wong dipasang di Kampung Gendeng Timur, Balirejo dan Tegalgendu.
“EWS otomatis memiliki respon time-nya lebih cepat karena level permukaan air terpantau lebih akurat dan sistem peringatan akan bekerja lebih responsif,” bebernya.
Hal tersebut pun terbukti pada hujan deras yang terjadi pada Selasa (2/11) malam. EWS yang ditempatkan di Sungai Code dan Sungai Winongo langsung berbunyi memperingatkan warga ketika terjadi peningkatan debit air.
Meskipun air dari kedua sungai itu sempat meninggi, Darmanto memastikan tidak sampai masuk hingga kawasan permukiman warga. EWS Sungai Winongo berbunyi sekitar pukul 19.40 dari titik Kampung Bener. Sementara Sungai Code yang terletak di Kampung Sayidan berbunyi pada pukul 19.55.
“Sekitar pukul 22.00 debit air sudah aman terkendali,” jelasnya.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Jogjakarta Reni Kraningtyas meminta agar masyarakat dan pemerintah daerah waspada terhadap peningkatan curah hujan. Sebab puncak musim penghujan diprediksi baru terjadi pada bulan Januari-Februari.
Reni mengungkapkan, selama musim penghujan tahun ini juga perlu diwaspadai potensi bencana hidrometeorologi. Seperti banjir, tanah longsor dan angin kencang. Terlebih selama memasuki puncak musim penghujan.
“Perlu dilakukan tindakan mitigasi bencana meliputi membersihkan saluran air, memangkas dahan pohon, dan memastikan kekuatan baliho di jalan raya,” pesannya. (inu/pra)
Editor : Heru Pratomo