Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Sepi! Pedagang Rooftop Pujasera Pasar Sentul Memilih Pindah, Jika Tetap Lesu hingga Tahun Depan: Sebut Kurang Promosi dan Tidak Ada Daya Tarik Pembeli

Iwan Nurwanto • Selasa, 4 November 2025 | 03:13 WIB

 

Suasana sepi di zona kuliner di rooftop Pasar Sentul, Kota Jogja, Senin (3/11/2025).
Suasana sepi di zona kuliner di rooftop Pasar Sentul, Kota Jogja, Senin (3/11/2025).
 

JOGJA - Revitalisasi Pasar Sentul sebagai pasar tradisional dengan sentuhan modernisasi dinilai gagal oleh pedagang pusat jajanan serba ada (pujasera).

Alih-alih mensejahterakan pedagang, lantai atas pasar di Kemantren Pakualaman itu justru kerap sepi pembeli.

Kondisi itu juga tampak dari banyak kios pedagang yang tutup. Pantauan Radar Jogja, dari puluhan kios hanya sekitar delapan yang buka.

Para pedagang pun hanya terlihat bersantai lantaran tidak ada pembeli yang dilayani.

Penjaga gerai Syomai Bandung Pak Tugiyat Anik menyebut, sepinya lantai atas Pasar Sentul sudah berlangsung hampir dua tahun terakhir.

Kondisinya memprihatinkan karena sehari dirinya hanya mendapatkan lima pembeli saja.

“Paling bagus itu setiap hari paling ada sepuluh pembeli dan itu langganan semua,” ujarnya kepada Radar Jogja, Senin (3/11/2025).

Sebagaimana diketahui, Pasar Sentul diresmikan pada Februari 2024 lalu. Renovasi pasar tersebut menelan anggaran Rp 2 miliar yang bersumber dari dana keistimewaan (danais).

Bangunan pasar tiga lantai ini memiliki konsep perpaduan antara modern dan tradisional.

Dua lantai bawah berfungsi sebagai pasar tradisional untuk kebutuhan sembako dan sayur mayur.

Sementara untuk lantai paling atas difungsikan sebagai rooftop dan pujasera yang sebelumnya direlokasi dari Alun-alun Sewandanan Pura Pakualaman.

 Baca Juga: Pemprov Jateng Jalin Kerja Sama dengan ChildFund Garap Berbagai Program Tentang Anak

Wajah lapak pedagang yang tak menghadap ke jalan raya diklaim sebagai salah satu kesalahan konsep bangunan sejak awal.

Sebab menjadi kurang terlihat oleh masyarakat pengguna jalan.

Kondisi tersebut diperparah dengan tidak adanya peneduh pada halaman lantai atas Pasar Sentul.

Dampaknya, membuat pengunjung enggan untuk menuju lantai atas karena kondisinya yang panas. Meskipun sudah disediakan eskalator.

Selain itu, kata dia, masih kurangnya promosi dari pemerintah juga membuat pasar tersebut sepi.

Sehingga membuat banyak masyarakat atau wisatawan belum tahu tentang kehadiran pujasera di Pasar Sentul.

“Jadi beda dengan Pasar Prawirotaman yang selalu dipromosikan dan punya pemandangan bagus, di sini hampir tidak ada sama daya tariknya,” terangnya.

Melihat kondisi itu pun kios gerai Syomai Bandung Pak Tugiyat berencana akan pindah. Jika kondisi sepinya rooftop berlanjut hingga tahun depan. Karena ini sangat berpengaruh terhadap pendapatan pedagang.

Kendati begitu, Anik mengapresiasi kebijakan pemerintah yang meringankan biaya retribusi kios pujasera Pasar Sentul.

Lantaran selama dua tahun terakhir ini hanya dibebankan retribusi sebesar Rp 670 ribu per bulan.

“Nah, kalau tahun depan berlaku normal, saya memilih pindah saja,” katanya.

Baca Juga: Digugat Cerai Raisa, Hamish Daud Diduga Selingkuh dengan Sabrina Alatas Lewat Pinterest

Senada dengan hal itu, Pedagang Rujak Es Krim Pak Sony Sri Rahayu pun mengeluhkan hal yang sama.

Lapaknya seringkali sepi pembeli. Kondisi itu berbeda ketika masih menempati lokasi lama di Alun-alun Sewandanan Pura Pakualaman.

Rahayu mengungkap, ketika menepati Alun-alun Sewandanan Pura Pakualaman pembelinya bisa mencapai 300 orang per hari.

Namun setelah menempati lokasi baru di rooftop Pasar Sentul dirinya hanya mendapatkan lima sampai enam pembeli sehari.

“Kalau kondisinya seperti ini terus kemungkinan saya akan pindah juga,” bebernya. (inu/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#rooftop #pindah #Kurang promosi #Pasar Sentul #pujasera #sepi