JOGJA - Angka konsumsi ikan masyarakat DIY masih di bawah rata-rata nasional. Padahal, kandungan nutrisi dan gizi dalam olahan ikan cukup kompleks. Sangat dibutuhkan oleh tubuh. "Ini bagian dari gerakan kampanye meningkatkan konsumsi ikan masyarakat," ujar Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan DIY R. Hery Sulistio Hermawan di sela dialog interaktif bertajuk “Protein Ikan untuk Generasi Emas 2045, Ayo Makan Ikan” di kantornya kawasan Sagan, Terban, Yogyakarta, kemarin (15/10).
Dialog interaktif itu melibatkan 60 peserta. Mereka berasal dari perwakilan Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) provinsi dan kabupaten/kota se-DIY.
Hery mengatakan, menumbuhkan kesadaran pentingnya gizi bagi kecerdasan dan kesehatan dari mengonsumsi ikan ikut membantu menurunkan angka stunting di DIY. Kesadaran tersebut dinilai penting untuk terus disosialisasikan. Alasannya, tingkat konsumsi olahan ikan di DIY masih di angka 35,8 kilogram per kapita setiap tahun.
“Itu jauh di bawah rata-rata nasional yakni 57,6 kg per kapita saban tahun,” bebernya.
Menurut Hery, ikan tidak memerlukan penyembelihan tertentu seperti unggas atau ternak besar. Ikan tidak butuh rumah potong hewan khusus. “Otomatis tidak ribet," jelas mantan wakil kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY ini.
Dikatakan, produksi ikan di DIY relatif mencukupi kebutuhan masyarakat. Sebab, tiga pelabuhan DIY mulai Pelabuhan Sadeng dan Gesing, Gunungkidul serta Pelabuhan Tanjung Adikarta, Kulon Progo diproyeksikan mampu memproduksi ikan lebih banyak. "Distribusi produk sebagian besar ke masyarakat DIY Jawa Tengah hingga Jawa Timur. Bahkan ada yang diekspor," bebernya.
Wakil Ketua I Tim Penggerak PKK DIY Gusti Kanjeng Bendara Raden Ayu Adipati Paku Alam X mewanti-wanti dari pertemuan itu para peserta bisa mendapatkan tambahan wawasan. Khususnya, manfaat dan variasi olahan dalam mengonsumsi ikan.
Dia mengajak masyarakat menyadari tingkat konsumsi ikan di DIY masih tertinggal dibandingkan daerah lain. "Seharusnya kita malu karena di DIY ada pantai yang banyak, kenapa tidak dimanfaatkan," ujar permaisuri Paku Alam X ini.
Menurut Gusti Putri, sapaan akrabnya, olahan ikan yang monoton menjadi salah satu faktor rendahnya konsumsi ikan di DIY. Dia mendorong masyarakat membeli ikan lokal karena kandungan gizinya sama ikan impor. Misalnya ikan gabus. “Kandungannya tak kalah dengan ikan salmon,” ujar alumni Fakultas Ekonomi UPN “Veteran” Yogyakarta ini.
Ketua Tim Kelompok Kerja (Pokja) 3 Tim Penggerak PKK DIY TO Suprapto menambahkan, hasil dari dialog interaktif itu segera diimplementasikan. Tim Penggerak PKK DIY segera mengadakan penyuluhan. Fasilitasi pemeliharaan ternak hingga ikan untuk kadernya di kabupaten/kota se-DIY.
“Ini langkah awal sebelum ke kalurahan (desa, Red) hingga level rumah tangga,” terangnya. Selanjutnya, setelah percontohanm di kabupaten, dilanjutkan ke kalurahan dan rumah tangga
Dalam acara itu, TO Suprapto menyampaikan materi peran keluarga dalam pengkajian dan peningkatan konsumsi ikan di DIY. Ada juga seorang dokter sekaligus influencer Inggar Bagus Wibisana. Dia memaparkan kandungan gizi dalam olahan ikan. Mengenalkan jenis alergi ikan. Narasumber lainnya praktisi sekaligus chef Mili Hendratno yang bicara seputar variasi olahan ikan. (oso/kus)
Editor : Sevtia Eka Novarita