Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

BMKG Prediksi Masih Ada Potensi Gelombang Tinggi di Perairan Yogyakarta, Mulai 19-22 Agustus 2025

Iwan Nurwanto • Selasa, 19 Agustus 2025 | 01:00 WIB

LENGANG: Perahu nelayan terparkir di bibir Pantai Congot tanpa ada aktivitas melaut.
LENGANG: Perahu nelayan terparkir di bibir Pantai Congot tanpa ada aktivitas melaut.

JOGJA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta meminta masyarakat di pesisir selatan untuk tetap waspada. Pasalnya, gelombang tinggi masih jadi ancaman. 

Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Yogyakarta Warjono mengatakan, berdasarkan hasil analisis dinamika atmosfer pihaknya memantau adanya tekanan rendah di sebelah barat Samudra Hindia. Kemudian hembusan angin timuran juga masih mendominasi.

“Angin timuran terpantau wilayah Jawa termasuk DIY,” ujar Warjono dalam keterangannya, Senin (18/8).

Berdasarkan kondisi tersebut, BMKG Yogyakarta memprediksi ada potensi gelombang tinggi selama periode tanggal 19 hingga 22 Agustus 2025 mendatang. Ketinggiannya diprediksi dapat mencapai 2,5 hingga 4 meter.

Potensi gelombang tinggi juga kemungkinan dapat terjadi di seluruh kawasan pesisir pantai selatan. Di antaranya perairan Kulon Progo, Bantul, dan Gunungkidul. Termasuk Samudera Hindia di sisi selatan.

Selain itu, Warjono pun meminta agar masyarakat mewaspadai cuaca hujan di tengah musim kemarau. Sebab profil vertikal kelembaban udara di DIY berada pada ketinggian 1,5 hingga 3 kilometer.

Kondisi tersebut dapat menghasilkan cuaca yang dominan cerah berawan. Namun berpotensi hujan ringan hingga sedang berdurasi singkat. Terutama saat siang dan sore hari.

“Kami meminta agar masyarakat selalu memperbarui informasi cuaca terkini,” pesan Warjono 

Sebelumnya, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) DIY R Hery Sulistio Hermawan meminta agar nelayan melakukan langkah antisipasi laka laut seiring dengan adanya gelombang tinggi. Misalnya dengan menggunakan perlengkapan keselamatan seperti pelampung.

 

Selain itu, dia juga meminta agar para nelayan memiliki jaminan keselamatan kerja seperti BPJS Ketenagakerjaan. Sebab dengan kepemilikan asuransi dapat menjadi jaring pengaman ketika terjadi kecelakaan kerja.

 

"Per bulannya (iuran BPJS Ketenagakerjaan untuk nelayan, Red) tidak sampai Rp 20 ribu,” beber Hery. (inu)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Yogyakarta #perairan #Kulon Progo #Gunungkidul #Bantul #DIY #Samudra Hindia #gelombang tinggi #pesisir selatan #BMKG #Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika