Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pedagang dan Pembeli Beras di Pasar Beringharjo Kota Jogja Resah, Beredar Kabar Adanya Beras Oplosan

Iwan Nurwanto • Selasa, 15 Juli 2025 | 21:01 WIB
Ilustrasi penjual bahan pokok di Jogja.
Ilustrasi penjual bahan pokok di Jogja.

JOGJA - Isu beras oplosan membuat resah kalangan pedagang dan pembeli di Pasar Beringharjo, Kota Jogja. Pasalnya, praktik tersebut dapat merugikan. Baik dalam hal penjualan kepada konsumen maupun untuk kebutuhan konsumsi sehari-hari.

Salah satu pedagang bahan pokok Sriyati,70 mengatakan, dirinya memang belum mengetahui secara detail terkait dengan beredarnya beras oplosan. Meskipun demikian, jika praktik tersebut benar terjadi tentu membuat pedagang khawatir.

Sebab, beredarnya beras oplosan dapat membuat pembeli menjadi tidak lagi percaya dengan penjual. Sehingga dapat berpotensi membuat pelanggan lari dari losnya.

Adapun isu beras oplosan mencuat setelah Kementerian Perdagangan merilis 10 merek diduga beras oplosan. Salah satu yang beredar di Yogyakarta adalah merek Ayana.

Yati sapaannya, mengaku tidak menjual merek tersebut. Pun selama ini dia juga sudah mengantisipasi penjualan beras oplosan dengan membeli beras dari tengkulak yang sudah terpercaya.

“Jadi supaya tidak mendapat beras oplosan, ya saya kulakannya di penjual yang tetap. Tidak berpindah kulakan,” ujar wanita yang akrab disapa Yati ini saat ditemui di Pasar Beringharjo, Selasa (15/7/2025).

Menurut dia, praktik penjualan beras oplosan sebenarnya sudah sering menyasar pedagang pasar tradisional. Modusnya, berupa tengkulak baru yang menawarkan beras dibawah harga pasaran.

Namun, para pedagang biasanya sudah paham dengan modus itu. Sehingga memilih untuk tidak membeli beras yang ditawarkan oleh tengkulak baru.

“Dulu pernah sekali saya kena beras oplosan, pas dibuka ternyata beras campuran. Ya saya kapok,” ungkap Yati.

Pedagang lain di Pasar Beringharjo, Lastri pun mengaku sama resahnya jika beras oplosan benar-benar beredar di pasar tradisional. Walaupun tidak tahu secara pasti isu beras oplosan. Dia berharap ada pengawasan ketat dari pemerintah agar pedagang tidak tertipu produsen.

Wanita 50 tahun ini menyebut, beras oplosan yang biasanya menimpa para pedagang biasanya sudah dalam bentuk karungan. Yakni dalam satu karung beras yang sudah dicampur beras kualitas bagus dengan beras kualitas biasa.

“Kalau pas masih beras sulit dibedakan, kalau sudah dimasak biasanya konsumen terus komplain,” jelas Lastri.

Sementara itu, salah satu pembeli bernama Santi Nur Mawati menilai, beredarnya beras oplosan tentu akan sangat merugikan konsumen. Sebab dapat mempengaruhi kualitas nasi yang digunakan untuk konsumsi sehari-hari.

Warga Kelurahan Pandeyan, Umbulharjo ini mengaku, juga belum terlalu paham dengan beredarnya beras oplosan yang disampaikan pemerintah pusat. Sebab selama ini dia juga menggunakan beras mentik wangi karena lebih empuk dan pulen jika sudah menjadi nasi.

“Kalau kami belinya beras oplosan ya jelas rugi, misalnya beli mentik wangi Rp. 17.500 per kilo kok malah dapatnya beras tidak enak,” sebut Santi. (inu)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Pasar Beringharjo Jogja #pasar beringharjo yogyakarta #pasar beringharjo #beras oplosan #beras oplosan yogyakarta