RADAR JOGJA - Sosok Mbak Sherly kembali viral di jagat maya.
Perempuan ini mencuri perhatian warganet lantaran celotehannya yang menyinggung banyak orang, khususnya wong Jogja.
Dalam unggahan video itu dia kembali menyinggung terkait "Jogja" dan "rakyat jelata".
Dia juga mengumpat dengan kata-kata yang tak pantas diucapkan.
Dengan nada ketus dan kalimat-kalimat cercaan dia lontarkan, tanpa ada tujuan untuk siapa pernyataan tersebut disampaikan.
"Ya rohman ya rohim, ini gue, wih ternyata, bener-bener di Jogja nih, ternyate bener. Nggak mau disebut rakyat jelata g*bl*k t*l*l, ya. Tapi apa kenyataannya yang kalian perbuat, coba! Gue tanya apa yang kalian perbuat? Secara tidak langsung apa yang kamu buat, apa yang kamu viralkan menunjukkan, ya itulah kalian. Nggak kira-kira ini akalnya tidak terpakai ternyata ya....," cercanya.
Sebelumnya, pada tiga hari lalu pernyataan Mbak Sherly ini bikin geram Warga Jogja.
Berawal dari celotehan Mbak Sherly yang mengomentari sebuah acara Festival Lampion yang bukan diselenggarakan dari Tim DIY.
Lantas dia menyebutkan bahwa warga Jogja dianggap rakyat jelata, SDM rendah, kampungan dan tidak mampu berkembang maju.
"Rakyat jelata dari Yogyakarta ini SDM rendah, susah. SDM rendah tidak akan mampu untuk bergerak dan berkembang maju. Cuaks Slebeeeawww," ungkap Sherlly_sheer di laman IG Pribadinya yang kemudian diprivat.
Hal ini menuai reaksi warganet yang geram terhadap celotehan perempuan tersebut.
Sejumlah warganet menganggap bahwa perempuan tersebut dalam gangguan mental.
"Penuh emosi dan motivasi tapi minim substansi, tinggal dijelaskan saja mbak segmen jenengan melempar ‘jogja dan rakyat jelata’ itu untuk spesifik kelompok mana..
Kalau jenengan gebyah uyah warga jogja kabeh..
Hayo muntab kabeh to," tulis @kra.rizkiajidiningrat dikutip dari Instagram @merapi_uncover.
"Iki wong mental health e wes keno," febry_irwantos.
"CARI perhatian. NPD," tulis @ninuqra.
Ada yang menganggap bahwa perempuan tersebut haus validasi dan ingin viral.
Kendati begitu belum ada klarifikasi Mbak Sherlly maksud dari celotehannya tersebut.
Editor : Meitika Candra Lantiva