Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mereka yang Menggantukan Harapan dalam Program Pendidikan Gratis, Asa dari Akar Rumput untuk Sekolah Rakyat

Agung Dwi Prakoso • Senin, 14 Juli 2025 | 23:26 WIB
Para siswa SR Menengah Atas Sonosewu sedang menjalani serangkaian cek kesehatan saat hari pertama masuk, Senin (14/7/2025).
Para siswa SR Menengah Atas Sonosewu sedang menjalani serangkaian cek kesehatan saat hari pertama masuk, Senin (14/7/2025).

JOGJA - Para siswa nampaknya bersemangat menjalani serangkaian proses di Sekolah Rakyat (SR) Menengah Atas 19 Sonosewu Bantul yang baru beroperasi itu.

Wajah yang penuh harapan tergambar dibalik senyum mereka.

Haru orangtua bercampur bangga melepas anaknya yang dalam beberapa waktu tidak pulang untuk mengenyam pendidikan gratis yang dinantikan.

Program pendidikan gratis Pemerintah Indonesia melalui SR di DIY mulai beroperasi, Senin (14/7/2025).

Ratusan siswa putra maupun putri hilir-mudik di Gedung SR Sonosewu, Bantul. Mayoritas mereka diantar oleh orangtuanya.

Ada yang diantar menggunakan sepeda motor, bahkan mungkin ada yang menggunakan sepeda. Yang pasti, kesederhanaan terpancar dari keluarga mereka.

Tak ada mobil mewah yang terparkir di parkiran.

Di dekat tanah lapang kompleks gedung tersebut, salah seorang siswa SR asal Bantul, Kurnia Vita Anggarani duduk dengan ditemani orangtuanya.

Di tangannya membawa bingkisan snack kecil dan beberapa lembar formulir yang diberikan panitia.

Sejak pukul 05.00 dirinya sudah sampai di lokasi tempat ia akan menimba ilmu itu. Selama tiga tahun, juga akan banyak menghabiskan waktu di gedung tersebut.

"Kesini tadi dianter naik motor," ujarnya.

Berdasarkan ceritanya, latar belakang keluarganya termasuk golongan keluarga yang kurang mampu. Ayahnya seorang kuli pasir dan ibunya seorang pembuat bakso. Motivasi dirinya mendaftar di SR adalah untuk mengurangi beban orangtua.

"Bapak kuli pasir di Sleman, ibu di Srumbung bikin bakso," tuturnya.

Dibalik senyumnya, terdapat kesedihan yang cukup mendalam. Ia merasa sedih lantaran hari itu merupakan hari perpisahan dirinya dengan orang tua untuk beberapa waktu. Karena SR mewajibkan siswanya untuk menginap dengan konsep sekolah boarding school.

Menurutnya, kesedihan itu tidak boleh terus diratapi. Namun menjadi motivasi untuk mewujudkan cita-citanya dan membuktikan kepada orangtuanya bahwa ia bisa.

"Pengin kuliah, cita-cita di Universitas Gajah Mada (UGM)," ucapnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Randi Waradhana yang merupakan salah seorang siswa SR angkatan pertama di Purwomartani. SR menjadi harapan dirinya untuk bisa memperoleh pendidikan setara SMA. Dua tahun dirinya tidak bisa bersekolah lantaran kondisi ekonomi keluarga yang tidak mampu.

"Sudah dua tahun mundur sekolah, alhamdulilah ini keterima di SR," ujarnya.

Pria asal Sleman tersebut menceritakan kondisi keluarganya. Mulai dari ayah dan inunya yang sudah lama bercerai hingga pekerjaan ayahnya yang tidak menentu.

"Ayah berjualan bakso krikil, keliling kampung," tuturnya.

Harapannya masuk di SR salah satunya untuk bisa mencari pekerjaan yang layak ketika lulus. Ia ingin membantu orangtuanya untuk merawat dan mengurus adik-adiknya.

"Semoga jalannya lancar dan dimudahkan," ucap kakak yang mempunyai dua orang adik itu.

Orangtua siswa, Suhardi mengatakan cukup berat melepas anaknya untuk sekolah dengan konsekuensi tidak bisa bertemu setiap hari. Namun, dirinya percaya, anaknya bisa menyelesaikan pendidikannya.

"Kebetulan anak itu sudah dari kecil saya bekali berlatih mandiri, masak itu sudah bisa, jadi ndak bergantung orang lain," ujarnya.

Ia sendiri bekerja sebagai buruh harian lepas di Piyungan, Bantul. Selain itu, hari-harinya juga disibukkan menggarap sawah sebagai petani.

"Anak saya tawari minat, karena keterbatasan ekonomi juga," bebernya.

Kepala sekolah SR Menengah Atas Sonosewu Agus Ristanto menyampaikan bahwa para siswa saat ini mayoritas diantar orangtua masing-masing. Selama mengikuti rangkaian kegiatan pertama, orangtua diperbolehkan untuk menunggui.

"Kami memberi waktu orang tua untuk membersamai anakanya sampai pukul 13.00. Setelah itu mereka akan pulang dan meninggalkan anaknya di sini," ujarnya. (oso)

 

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Yogyakarta #warga miskin #Pendidikan #Boarding School #Sekolah Rakyat