JOGJA - Upaya untuk menekan timbulnya emisi gas rumah kaca di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) hendaknya dimulai dari komponen masyarakat lapisan bawah.
Gaya hidup dan pola masyarakat yang tidak menyadari hal-hal kecil yang ia lakukan berakibat pada kerusakan iklim menjadi tantangan tersendiri.
"Banyak masyarakat ingin mendapatkan kepuasan jangka dekat namun tidak memikirkan jangka panjangnya," ujar Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setprov DIY Tri Saktiana, Minggu (22/6).
Menurutnya, masih banyak masyarakat yang menggunakan wadah atau kantong plastik, khususnya sekali pakai.
Padahal, wadah tersebut menjadi salah satu faktor adanya kerusakan alam.
"Contohnya marak penjual es dengan wadah plastik, disatu sisi baik untuk pertunbuhan ekonomi, namun juga menimbulkan sampah plastik," tuturnya.
Ia juga mengamati, hal hal kecil lain yang dilakukan masyarakat seperti gengsi menyuguhi tamu menggunakan air mineral yang disajikan dalam gelas.
Mereka menilai air minum dalam kemasan lebih premium untuk tamu dibandingkan dengan gelas.
"Apalagi saat lebaran, harusnya lebih baik pakai gelas biasa, menekan sampah plastik," bebernya.
Ketua Komisi C DPRD DIY Nur Subiyantoro menambahkan salah satu upaya untuk mengantisipasi kerusakan lingkungan dan emisi gas rumah kaca adalah menggalakkan ekonomi hijau.
Hal itu untuk mencapai pembangunan berkelanjutan dengan menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan.
"Peraturan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 1 Tahun 2024 Tentang Ekonomi Hijau yang telah disahkan," ujarnya.
Ekonomi hijau diintegrasikan sebagai salah satu strategi efektif untuk mewujudkan pembangunan yang seimbang dan berkelanjutan.
Pembangunan tersebut berlandaskan pada tiga pilar utama, yaitu pilar lingkungan, pilar ekonomi, dan pilar sosial.
"Berangkat dari keluarga dan rumah tangga, apabila dilakukan masif pasti akan berdampak," bebernya.
Kabid Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup DLHK DIY Sjamsu Agung Widjaya menyampaikan terdapat empat pilar yang menjadi program mengantisipasi emisi gas rumah kaca.
Mulai pengelolaan lahan terbuka, konservasi air, energi dan pengurangan sampah mandiri.
"Mencegah kerusakan itu lebih irit dibandingkan memulihkannnya," ujarnya. (oso)
Editor : Bahana.