JOGJA - Masa peralihan musim seperti saat ini, para petani di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) harus selektif dalam menanam tanaman di sawahnya.
Selain itu, beberapa hama juga kerap menyerang tanaman yang mengakibatkan terganggunya hasil panen.
"Ini masuk peralihan musim, yakni musim kemarau basah," ujar Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY Syam Arjayanti saat dikonfirmasi, Rabu (11/6/2025).
Iklim yang tak menentu seperti ini, ia juga menyadari para petani dilematis.
Sebab, apabila menanam komoditas padi, dikhawatirkan pasokan air berkurang.
Namun apabila menanam jenis palawija maupun holtikultura juga harus baik penanamannya dari segi kebutuhan air.
"Dijaga airnya agar tidak terlalu menggenang, karena memang cuacanya tak menentu," tuturnya.
Selain jenis tanaman, petani juga harus mengantisipasi adanya hama yang berpotensi menyerang.
Mulai dari tikus dan wereng yang sudah ditemukan menyerang beberapa daerah.
"Kami sudah mengadakan Pengelolaan Umpan Terpadu (PUPT) menyusun strategi mengendalikan hama tersebut," bebernya.
PUPT adalah pendekatan yang menggabungkan berbagai aspek pengelolaan tanaman, termasuk penggunaan pupuk, pestisida, air, dan tanah secara terintegrasi.
Cara tersebut bisa menggunakan pestisida, pupuk hijau dan penggunaan varietas tanaman yang unggul dan tahan terhadap hama dan penyakit.
"Hama tikus kemarin ada di daerah Sleman dan Bantul, namun belum sampai menurunkan produksi," jelasnya.
Dikatakan terjadi peningkatan penyerangab hama terhadap tanaman petani.
Namun ia juga memastikan bahwa serangan tersebut belum berdampak ekstrem seperti gagal panen.
Dari data malah produksi padi rahun ini meningkat dibandingkan tahun lalu.
"Serapan gabah sudah mencapai 100,8 persen dari target yang ditentukan Bulog," tandasnya.
Salah seorang petani asal Pakem, Sleman Aris Romadhon mengatakan saat ini adalah peralihan menuju musim kemarau basah.
Di daerah tempat ia tinggal, mayoritas sawah masih ditanami tanaman padi.
"Disini air masih tergolong melimpah, jadi petani percaya diri menanam padi dengan tidak kekurangan air," ujarnya.
Mereka malah belum berani menanam palawija karena intensitas curah hujan masih tinggi.
Curah hujan tersebut dikhawatirkan berdampak pada hasil panenan palawija.
"Hama yang mulai muncul diantaranya wereng, regul dan keong," terangnya.
Para petani juga sudah mengantisipasi serangan hama tersebut salah satunya dengan melakukan penyemprotan obat pestisida pada tanaman.
Sebaliknya, sawah miliknya kini ditanami timun. Hal tersebut karena di sawahnya telah dibuat green house.
Jadi peralihan musim tidak begitu berdampak pada tanaman miliknya.
"Kalau ga pakai green house ya buahnya cepat busuk, ga berani," jelasnya. (oso)
Editor : Meitika Candra Lantiva