JOGJA - Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kota Jogja mulai melaksanakan program uji kandungan gizi terhadap jajanan anak sekolah.
Dari rencana awal yang menyasar 16 jenis jajanan, keterbatasan anggaran membuat uji gizi baru bisa dilakukan pada satu jenis kudapan, yakni cilok. Sementara sisanya, hanya diuji dari segi kandungan zat berbahaya.
Kepala DPP Kota Jogja Sukidi mengatakan, program ini merupakan bagian dari pengawasan keamanan pangan yang semula ditujukan untuk seluruh sekolah dasar (SD) di Kota Jogja.
Namun karena terbatasnya waktu dan dana, uji sampel untuk tahap awal baru menyasar 21 lokasi sekolah yang dipilih secara acak.
“Untuk sementara kami hanya mengambil sampel dari 21 lokasi, dan kami akan lanjutkan kemudian,” ujar Sukidi saat dikonfirmasi lewat pesan singkat, Selasa (10/6/2025).
Dalam kegiatan pengambilan sampel itu, pihaknya sudah mengambil 40 sampel dari 16 jenis jajanan. Hasilnya, dari ke-16 jenis jajanan yang diuji semua negatif zat berbahaya. Baik itu pewarna maupun boraks dan formalin.
Menurutnya, uji kandungan gizi memerlukan biaya tinggi serta waktu analisis yang cukup lama, bisa mencapai dua hingga enam bulan.
Oleh karena itu, untuk tahap awal uji gizi hanya difokuskan pada cilok, jajanan yang dinilai paling sering dikonsumsi oleh anak-anak di sekolah.
“Untuk awal sampel yang akan diambil hanya jenis cilok, karena biaya pengujian per sampel jenis jajanan itu mahal,” terangnya.
Sebelumnya, Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo menilai, kecukupan gizi menjadi bagian penting dan tidak boleh terlewatkan selama masa pertumbuhan anak. Sebab gizi yang cukup mampu mencegah stunting.
Sehingga dia pun menyoroti masih banyaknya orang tua yang abai terhadap kecukupan gizi anak-anaknya. Misalnya hanya memberikan jajanan cilok sebagai makanan sehari-hari.
Hasto pun mendukung pengawasan jajanan yang dilakukan oleh DPP Kota Jogja. Disisi lain, dia juga mendorong agar para orang tua memperhatikan betul makanan yang dikonsumsi oleh anak-anaknya.
“Kalau ada anak-anak atau balita sering makan cilok tanpa asupan protein hewani, itu tidak bagus,” tegasnya. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita