Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Wisata Kuliner Jogja Terdampak Tingginya Harga Impor Bahan Baku dan Daya Beli Rendah Wisatawan

Agung Dwi Prakoso • Jumat, 30 Mei 2025 | 18:55 WIB
Ketua Umum Badan Pengurus Cabang (BPC) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kota Jogja R. Lucky Nurhadi Kurniawan.
Ketua Umum Badan Pengurus Cabang (BPC) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kota Jogja R. Lucky Nurhadi Kurniawan.

JOGJA - Pariwisata di Kota Jogja menjadi sektor andalan bagi para pengusaha dengan jenis usaha pendukung seperti akomodasi, kuliner dan oleh-oleh. Namun kondisi ekonomi global yang sedang carut-marut relatif mempengaruhi pengadaan bahan baku khususnya melalui impor. Harganya cenderung tinggi. 

"Beberapa pengusaha cukup terdampak, karena bahan baku yang digunakan masih impor dari negara lain," ujar Ketua Umum Badan Pengurus Cabang (BPC) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kota Jogja R. Lucky Nurhadi Kurniawan saat ditemui di Sekretariat Hipmi Kota Jogja, Jumat (30/5). 

Terlebih, situasi ekonomi global saat ini dinilai sedang tidak baik-baik saja. Mulai dari dampak kebijakan Trump dan permasalahan lain yang mempengaruhi ekosistem perekonomian di Indonesia. Dampak krisis tersebut juga dirasakan oleh para pengusaha muda, khususnya terkait pengadaan barang atau bahan impor. 

"Kami para pengusaha tantangannya setelah pulih dari masa Pandemi Covid-19, masih dihadapkan dengan situasi golobal yang seperti ini," tuturnya.

Kemudian tantangan selanjutnya yakni akitannya dengan daya beli masyarakat yang rendah. HIPMI Kota Jogja mempunyai PR untuk berupaya menaikkan daya beli masayarakt. Saat ini organisasi yang mewadahi pengusaha muda Kota Jogja itu dikabarkan sedang mempersiapkan Musyawarah Cabang (Muscab) untuk membicarakan tantangan-tangan tersebut. Selain itu, rencananya juga akan dilakukan pergantian ketua umum baru agar roda organisasi tetap melaju. 

"Harapannya Sumber Daya Manusia (SDM) yang menjadi aset HIPMI bisa memanfaatkan peluang," bebernya. 

Total terdapat 160 pengusaha muda di Kota Jogja yang tergabung dalam organisasi tersebut. Mereka mempunyai usaha yang bergerak di berbagai bidang seperti kuliner, industri, oleh-oleh dan skin care. 

Menurutnya, di Kota Jogja yang menjadi potensi unggulan masih di sektor pariwisata. Otomatis, jenis usaha pendukung kepariwisataan lebih menonjol.

"Bisa jadi produk oleh-oleh maupun paket wisata ke suatu obyek," jelasnya. 

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) DIY Eko Yunianto mengatakan hampir semua lapangan usaha di DIY tumbuh positif pada triwulan I 2025. Enam Sektor terbesar yakni industri pengolahan dengan distribusi 11,99 persen, Pertanian 11,89 persen, Akomodasi dan Makan Minum 10,65 persen, informasi dan komunikasi 9,55 persen dan Konstruksi 8,70 persen. 

"Akomodasi dan makan minum naik years on year sebesar 5,20 persen," ujarnya. 

Data yang ia terima, jumlah kunjungan wisatawan Nusantara ke DIY selama Januari-Maret 2025 juga naik 3,49 persen. Data itu dibandingkan dengan data periode yang sama pada tahun 2024 (cumulative to cumulative) dari 9.894.680 perjalanan menjadi 10.240.350 perjalanan.

Namun di sisi lain, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di DIY bulan Maret sebesar 23,15 persen, turun 29,19 poin dibanding bulan sebelumnya. Selanjutnya TPK hotel non bintang sebesar 11,89 persen, turun 9,57 poin dibandingkan bulan sebelumnya.

"Secara umum pertumbuhan ekonomi DIY Triwula I 2025 tumbuh positif dibandingkan triwulan 4 tahun 2024," tuturnya. (oso) 

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Wisata Kuliner Jogja #wisata jogja #Kuliner #Wisata #hipmi #wisata kuliner