Umat Katolik di Jogja Khusyuk Kenang dan Doakan Paus Fransiskus lewat Misa Arwah di Empat Gereja Serentak
Gregorius Bramantyo• Kamis, 24 April 2025 | 04:41 WIB
Umat Katolik di Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus (HKTY) Pugeran, Kota Jogja, mengikuti Misa Requiem untuk mendoakan Paus Fransiskus, Rabu (23/4/2025).
JOGJA – Sejumlah gereja Katolik di Jogja menggelar Misa Requiem Paus Fransiskus pada Rabu (23/4/2025) jelang pemakamannya.
Misa ini dilaksanakan untuk mendoakan kedamaian jiwa Paus Fransiskus yang selama masa pontifikatnya dikenal sebagai pemimpin yang rendah hati, penuh kasih, dan peduli pada kaum marginal.
Misa Requiem atau misa arwah dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada Bapa Suci.
Paus Fransiskus dikenal luas sebagai pemimpin yang rendah hati, penuh kasih, dan sangat peduli terhadap kaum marginal.
Dalam tradisi Katolik, Misa Requiem digelar sebagai bentuk doa khusus bagi arwah yang telah berpulang, berbeda dari misa biasa yang memiliki intensi yang lebih umum.
Beberapa gereja Katolik di Jogja yang menggelar misa arwah ini di antaranya Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus (HKTY) Pugeran, Gereja Santo Yusup Bintaran, Gereja Santo Albertus Agung Jetis, dan Gereja Kristus Raja Baciro.
Di Gereja HKTY Pugeran, misa arwah dipimpin oleh Romo Stefanus Arief Gunawan, Pr dan dimulai pukul 18.00 WIB.
Waktu pelaksanaan misa yang dipilih selepas senja bertujuan agar lebih banyak umat dapat hadir.
Termasuk mereka yang lansia maupun umat yang baru dapat hadir usai aktivitas harian.
"Sebelumnya pada Selasa (22/4/2025) kemarin, kami juga telah menggelar ibadat tuguran sebagai bentuk persiapan dan penghormatan kepada Paus," ujar Dewan Pastoral Paroki Gereja HKTY Pugeran, Yohanes Widiyanto, Rabu (23/4/2025).
Di mana saat itu, paus bernama lengkap Jorge Mario Bergoglio tersebut memilih menggunakan pesawat komersial, tinggal di Kedutaan Besar Vatikan, menumpang mobil Innova Zenix, dan mengenakan jam tangan merek Casio yang murah.
“Itu semua menunjukkan bahwa sebagai pemimpin agama, tidak harus tampil mewah. Justru dari kesederhanaan itu, umat belajar banyak tentang kerendahan hati," tutur Hangesti.
Dia juga mengenang momen ketika Paus Fransiskus mengunjungi Masjid Istiqlal dan bersalaman serta mencium tangan Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Dr. Nasaruddin Umar.
"Itu bukti bahwa beliau sangat menjunjung tinggi nilai-nilai pluralisme dan tidak membedakan sesama manusia," tambahnya.
Terkait wafatnya Paus Fransiskus, Hangesti mengaku terkejut. Sebab setelah pulang dari rumah sakit, paus asal Argentina itu masih terlihat sehat.
“Tapi mungkin karena dipaksakan untuk tetap memberi audiensi dan berkat di Lapangan Santo Petrus setelah Paskah. Kami pun sangat kaget ketika mendengar kabar duka itu,” ungkapnya.
Dia juga menyoroti momen wafatnya Sri Paus yang terjadi tepat setelah Hari Raya Paskah.
Rasanya seperti ada makna tersendiri. Sebab, Paskah memperingati wafat dan kebangkitan Kristus.
“Paus meninggal hanya berselisih satu hari dengan Paskah. Kok seakan-akan beliau ‘mbarengi’ momen suci tersebut,” katanya.
Sebelumnya. Paus Fransiskus meninggal dunia di usia 88 tahun pada Senin (21/4/2025) pagi waktu Vatikan.
Paus yang telah memimpin umat Katolik dunia sejak 2013 ini menghembuskan nafas terakhirnya setelah kesehatannya terus menurun dan sempat dirawat di rumah sakit selama lima pekan pada awal 2025 akibat pneumonia. (tyo)