Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

BMKG Yogyakarta Ungkap Angin Monsun Asia Melemah, Namun Potensi Bencana Hidrometeorologi Masih Tinggi

Iwan Nurwanto • Selasa, 22 April 2025 | 04:55 WIB
SIAGA: Bencana pohon tumbang menimpa rumah-rumah warga dan fasilitas umum di Gunungkidul.
SIAGA: Bencana pohon tumbang menimpa rumah-rumah warga dan fasilitas umum di Gunungkidul.

JOGJA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta mengungkap kondisi angin monsun Asia mulai melemah.

Meski angin yang membawa uap air hujan itu mulai menjauhi Indonesia, potensi bencana hidrometeorologi dipastikan masih sangat tinggi.

Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Reni Kraningtyas mengatakan, berdasarkan hasil pengamatan gejala fisis dan dinamika atmosfer serta laut menunjukkan adanya perubahan.

Misalnya, angin monsun Asia yang mulai melemah karena angin di wilayah bagian selatan ekuator bertiup dari barat.

Kemudian indeks el nino southern oscillation (ENSO) juga berada dalam kondisi netral, diprediksi kondisi ini akan bertahan hingga semester dua 2025. Serta madden julian oscillation (MJO) tidak aktif di wilayah Indonesia.

Lalu dipole mode indeks (DMI) kategori IOD Netral pada awal Maret 2025 dan diprediksi berlanjut hingga semester dua 2025.

Sementara analisis anomali suhu muka air laut dalam kategori hangat berkisar antara 29 sampai dengan 30 derajat celcius.

“Sehingga curah hujan di Yogyakarta untuk tiga dasarian ke depan diprediksi rendah hingga menengah, atau berkisar antara 10-75 mm dengan sifat hujan bervariasi bawah normal hingga atas normal,” ujar Reni dalam keterangannya, Senin (21/4/2025).

Dia pun mengungkap, awal musim kemarau di Yogyakarta dapat diprediksi terjadi pada dasarian tiga April hingga dasarian tiga Mei. Jika dibandingkan dengan normalnya, rata-rata mundur satu dasarian.

Reni membeberkan, bahwa puncak musim kemarau di DIJ diprediksi terjadi pada Juli dan Agustus.

Kemudian untuk durasi musim kemaraunya dimungkinkan bekisar antara 19 hingga 21 dasarian.

“Pada periode peralihan musim dari hujan ke kemarau pada April ini perlu diwaspadai potensi terjadinya cuaca ekstrem berupa hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang,” pesannya.

Terpisah, Ketua Tim Kerja Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja Darmanto mengakui, potensi bencana pada April ini masih cukup tinggi.

Karenanya dilakukan perpanjangan status siaga darurat hingga 30 April 2025 mendatang.

Darmanto membeberkan, untuk potensi dampak bencana cuaca hidrometeorologi bisa berupa kejadian berupa talud longsor. Kemudian juga pohon tumbang ketika terjadi hujan deras.

“Kami meminta masyarakat tetap waspada dan rutin memantau informasi cuaca,” tegasnya. (inu/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#potensi bencana #bmkg yogyakarta #masih tinggi #angin Monsun Asia