Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Sikapi Kebijakan Tarif Resiprokal AS, Pengusaha DIY Bidik Timur Tengah sebagai Pasar Baru

Gregorius Bramantyo • Rabu, 9 April 2025 | 04:40 WIB

 

BUAH TANGAN: Berbagai kerajinan tangan yang jadi salah satu oleh-oleh khas Kabupaten Sleman. Dispar Sleman memprediksi, rata-rata belanja wisatawan domestik mencapai Rp 1,5 juta
BUAH TANGAN: Berbagai kerajinan tangan yang jadi salah satu oleh-oleh khas Kabupaten Sleman. Dispar Sleman memprediksi, rata-rata belanja wisatawan domestik mencapai Rp 1,5 juta
 

JOGJA - Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) DIY membidik pasar baru setelah diberlakukannya kebijakan tarif resiprokal oleh Amerika Serikat (AS) sebesar 32 persen terhadap Indonesia. Pasar di negara-negara kawasan Timur Tengah menjadi incaran.

Ketua Asmindo DIY Sapto Daryono mengatakan, sebagian besar ekspor mebel dan kerajinan DIY ditujukan ke Eropa dan Asia. Sementara ekspor ke AS hanya sebagian kecil. “Sekitar 60 persen ke Eropa dan Asia, ke AS kecil juga,” katanya Selasa (8/4).

Dia mengakui, tarif tinggi yang diberlakukan oleh AS akan mempengaruhi anggotanya. Sehingga pencarian pasar baru menjadi langkah yang diambil. Sapto menyebut, untuk sementara pasar domestik terpengaruh oleh efisiensi anggaran yang berakibat penurunan permintaan barang dan jasa.

"Langkah kami memperkuat pasar dalam negeri dan mencari pasar baru. Tetapi pasar dalam negeri agak lesu, banyak pemangkasan (anggaran) sehingga barang dan jasa berkurang,” ujarnya.

Dia menyebut, pengusaha kini memperkuat pasar dalam negeri dan mencari pasar baru, salah satunya Timur Tengah. Sapto mengungkapkan, sebelumnya pihaknya sudah pernah mengekspor ke Timur Tengah dengan hasil yang cukup baik.

Menurutnya, saat ini peluang pasar di kawasan itu masih terbuka lebar, khususnya di negara-negara seperti Dubai dan Uni Emirat Arab. Di mana masih mengalami banyak pembangunan hotel dan proyek besar lainnya. “Sehingga permintaan mebel dari DIY masih cukup tinggi,” ucapnya.

Sapto membeberkan, ada beberapa pembeli dari Arab Saudi yang langsung mengimpor mebel dari DIY. Menurutnya, di Timur Tengah, produk yang diinginkan cenderung lebih modern dan mewah dengan finishing warna-warni. Berbeda dengan Eropa yang lebih menyukai produk alami dan memperhatikan detail, keunikan, serta kerumitan.

Dia juga mengatakan, ada perbedaan dalam gaya desain antara pasar Eropa dan Timur Tengah. Di mana Timur Tengah lebih menekankan pada penawaran harga yang kompetitif, sementara Eropa lebih fokus pada kualitas dan keunikan produk.

"Kalau Timur Tengah itu tidak melihat keunikan atau kerumitan produk. Kalau dia bisa nawar sekian, dia merasa menang. Tetapi tergantung buyer-nya juga. Kalau buyer dari Dubai itu bagus,” bebernya.

Meski begitu, Timur Tengah tetap dipandang sebagai pasar yang menguntungkan untuk dieksplorasi lebih lanjut. Selain itu, Asmindo DIY juga mempertimbangkan pasar baru lainnya seperti di Afrika, dengan Aljazair sebagai salah satu negara tujuan potensial.

Sementara itu, Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) DIY Timotius Apriyanto mengatakan, pemerintah perlu segera mengambil langkah strategis meredam dampak kebijakan Trump itu. Di antaranya diversifikasi pasar ekspor ke negara-negara lain untuk mengurangi ketergantungan terhadap AS.

Serta insentif bagi industri dalam negeri untuk meningkatkan daya saing produk lokal. "Harus ada lobi untuk meredam dampak itu. Kalau bisa, 32 persen penerapannya secara bertahap," ucapnya.

Dia mengatakan, khusus di DIY dia mendorong Pemprov DIY segera melakukan identifikasi sektor-sektor yang akan terdampak dalam kurun waktu dekat. Bahkan, mengusulkan agar dilakukan analisis mendalam mengenai waktu penerapan tarif 32 persen itu, apakah akan diberlakukan secara langsung atau bertahap.

"Sektor-sektor yang terdampak ada tekstil produk tekstil, baik rajut dan nonrajut. Lalu furnitur dan craft, produk alas kaki, produk kulit, sarung tangan dan lainnya," jelasnya. (tyo/laz)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#pasar domestik #Pemprov DIY #ekspor #produk #eropa #Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia #Asmindo #dubai #tarif resiprokal #pasar dalam negeri #uni emirat arab #amerika serikat (AS) #Asmindo DIY #DIY #Arab Saudi #mebel #Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) #asia #as #Kerajinan #pasar baru #Kebijakan